30 January 2010

Piagam Madinah


Saat sudah menetap di Madinah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai mengatur hubungan antar individu di Madinah. Berkait tujuan ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menulis sebuah peraturan yang dikenal dengan sebutan Shahîfah atau kitâb atau lebih dikenal sekarang dengan sebutan watsîqah (piagam). Mengingat betapa penting piagam ini dalam menata masyarakat Madinah yang beraneka ragam, maka banyak ahli sejarah yang berusaha membahas dan meneliti piagam ini guna mengetahui strategi dan peraturan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menata masyarakatnya. Dari hasil penelitian mereka ini, mereka berbeda pendapat tentang keabsahannya. Penulis kitab as Sîratun Nabawiyah Fi Dhauil Mashâdiril Ashliyyah, setelah membawakan banyak riwayat tentang piagam ini berkesimpulan bahwa riwayat tentang Piagam Madinah derajatnya hasan lighairihi[1].

SEJARAH PENULISAN PIAGAM
Penulis kitab as Sîratun Nabawiyah as Shahîhah mengatakan : “Pendapat yang kuat mengatakan bahwa piagam ini pada dasarnya terdiri dari dua piagam yang disatukan oleh para ulama ahli sejarah. Yang satu berisi perjanjian dengan orang-orang Yahudi dan bagian yang lain menjelaskan kewajiban dan hak kaum muslimin, baik Anshâr maupun Muhâjirîn. Dan menurutku, pendapat yang lebih kuat yang menyatakan bahwa perjanjian dengan Yahudi ini ditulis sebelum perang Badar berkobar. Sedangkan piagam antara kaum Muhâjirîn dan Anshâr ditulis pasca perang Badar[2]. At Thabariy rahimahullah mengatakan : “Setelah selesai perang Badar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal di Madinah. Sebelum perang Badar berkecamuk, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah membuat perjanjian dengan Yahudi Madinah agar kaum Yahudi tidak membantu siapapun untuk melawan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, (sebaliknya-pent) jika ada musuh yang menyerang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah, maka kaum Yahudi harus membantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah berhasil membunuh orang-orang kafir Quraisy dalam perang Badar , kaum Yahudi mulai menampakkan kedengkian ….. dan mulai melanggar perjanjian.[3] ”

Sedangkan kisah yang dibawakan dalam Sunan Abu Dawud rahimahullah yang menceritakan, bahwa setelah pembunuhan terhadap Ka’ab bin al Asyrâf (seorang Yahudi yang sering menyakiti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah) dan orang-orang Yahudi dan musyrik madinah mengeluhkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak mereka untuk membuat sebuah perjanjian yang harus mereka patuhi. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menulis perjanjian antara kaum Yahudi dan kaum muslimin.

Ada kemungkinan ini adalah penulisan ulang terhadap perjanjian tersebut. Dengan demikian, kedua riwayat tersebut bisa dipertemukan [4], riwayat pertama yang dibawakan oleh para ahli sejarah yang menyatakan kejadian itu sebelum perang Badar dan riwayat kedua yang dibawakan oleh Imam Abu Daud rahimahullah yang menyatakan kejadian itu setelah perang Badar.

ISI PIAGAM
Berikut ini adalah poin-poin piagam yang kami bawakan secara ringkas [5] :
A. Point-Point Yang Berkait Dengan Kaum Muslimin
1. Kaum mukminin yang berasal dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang bergabung dan berjuang bersama mereka adalah satu umat, yang lain tidak.

2. Kaum mukminin yang berasal dari Muhâjirîn , bani Sa’idah, Bani ‘Auf, Bani al Hârits, Bani Jusyam, Bani Najjâr, Bani Amr bin ‘Auf, Bani an Nabît dan al Aus boleh tetap berada dalam kebiasaan mereka yaitu tolong-menolong dalam membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.

3. Sesungguhnya kaum mukminin tidak boleh membiarkan orang yang menanggung beban berat karena memiliki keluarga besar atau utang diantara mereka (tetapi mereka harus-pent) membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.

4. Orang-orang mukmin yang bertaqwa harus menentang orang yang zalim diantara mereka. Kekuatan mereka bersatu dalam menentang yang zhalim, meskipun orang yang zhalim adalah anak dari salah seorang diantara mereka.

5. Jaminan Allah itu satu. Allah memberikan jaminan kepada kaum muslimin yang paling rendah. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu diantara mereka, tidak dengan yang lain.

6. Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kaum mukminin berhak mendapatkan pertolongan dan santunan selama kaum Yahudi ini tidak menzhalimi kaum muslimin dan tidak bergabung dengan musuh dalam memerangi kaum muslimin

B. Point Yang Berkait Dengan Kaum Musyrik
Kaum musyrik Madinah tidak boleh melindungi harta atau jiwa kaum kafir Quraisy (Makkah) dan juga tidak boleh menghalangi kaum muslimin darinya.

C. Point Yang Berkait Dengan Yahudi
1. Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

2. Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Kaum Yahudi berhak atas agama, budak-budak dan jiwa-jiwa mereka. Ketentuan ini juga berlaku bagi kaum Yahudi yang lain yang berasal dari bani Najjâr, bani Hârits, Bani Sâ’idah, Bani Jusyam, Bani al Aus, Bani dan Bani Tsa’labah. Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).

3. Tidak ada seorang Yahudi pun yang dibenarkan ikut berperang, kecuali dengan idzin Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam

4. Kaum Yahudi berkewajiban menanggung biaya perang mereka dan kaum muslimin juga berkewajiban menanggung biaya perang mereka. Kaum muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang yang memusuhi pendukung piagam ini, saling memberi nasehat serta membela pihak yang terzhalimi

D. Point-Point Yang Berkait Dengan Ketentuan Umum

1. Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga pendukung piagam ini. Dan sesungguhnya orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dan tidak khianat . Jaminan tidak boleh tidak boleh diberikan kecuali dengan seizin pendukung piagam ini

2. Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, maka penyelesaiannya menurut Allah Azza wa Jalla, dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam

3. Kaum kafir Quraisy (Mekkah) dan juga pendukung mereka tidak boleh diberikan jaminan keselamatan

4. Para pendukung piagam harus saling membantu dalam menghadapi musuh yang menyerang kota Yatsrib

5. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah juga aman, kecuali orang yang zhalim dan khianat. Dan Allah Azza wa Jalla adalah penjamin bagi orang yang baik dan bertakwa juga Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Pelajaran Dari Piagam Madinah
1. Piagam ini dianggap sebagai peraturan tertulis pertama di dunia

2. Para ulama tidak mengatakan bahwa diantara hukum-hukum yang tercantum dalam piagam ini ada yang di nasakh kecuali perjanjian dengan Yahudi atau non muslim dengan tanpa kewajiban membayar jizyah (pajak). Hukum ini terhapus dengan firman Allah k dalam Surat at Taubah/9 : 29

3. Sebagian para ulama mengatakan bahwa hubungan kaum muslimin dengan Yahudi yang terdapat dalam piagam tersebut sejalan dengan firman Allah dalam al Qur’an Surat al Mumtahanah/60 : 8, yang artinya : Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.

4. Piagam ini telah mengatur berbagai sisi kehidupan umat

5. Dalam piagam ini terdapat landasan perundang-undangan, misalnya :

a. Pembentukan umat berdasarkan aqidah dan agama sehingga mencakup seluruh kaum muslimin dimanapun berada
b. Pembentukan umat atau jama’ah berdasarkan tempat tinggal, sehingga mencakup muslim dan non muslim yang tinggal disana
c. Adanya persamaan dalam pergaulan secara umum
d. Larangan melindungi pelaku kriminal
e. Larangan bagi kaum Yahudi untuk ikut berperang kecuali dengan idzin Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam
f. Larangan perbuatan zhalim pada harta, kehormatan dan lain sebagainya
g. Larangan melakukan perjanjian damai secara pribadi dengan musuh
h. Larangan melindungi pihak musuh
i. Keharusan ikut andil dalam pembiayaan yang diperlukan dalam rangka membela negara
j. Keharusan membayar diyat dari yang melakukan pembunuhan
k. Tebusan tawanan
l. Melestarikan kebiasaan yang baik

Dinukil dari :
- as Sîratun Nabawiyah as Shahihah, DR Akram Dhiya’ al Umariy
- as Sîratun Nabawiyah Fi Dhauil Mashâdiril Ashliyyah, DR Mahdi Rizqullah Ahmad

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. as Sîratun Nabawiyah Fi Dhauil Mashâdiril ashliyyah, hlm. 312
[2]. As sîratun nabawiyah as Shahîhah, hlm. 277
[3]. Târîkhur Rusul wal Mulûk. Lihat as Sîratun Nabawiyah as Shahîhah, hlm. 278
[4]. as Sîratun Nabawiyah as Shahihah, hlm. 278
[5]. Ringkasan ini kami nukilkan dari as Sîratun Nabawiyah Fi Dhauil Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 306-307

28 January 2010

Kisah Intel CIA di Bogor


Dia jauh dari sosok agen rahasia dalam film spy Amerika yang kerap kita tonton. Robert Marshall Read tidaklah gagah. Usianya 56 tahun. Badannya ringkih, dan rambutnya putih perak. Hidungnya khas: tinggi berlengkung tajam.

Sudah sepekan lelaki itu meringkuk di sel pojok kanan lantai satu gedung Badan Reserse Kriminal Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Tapi dia memang agak istimewa. Selama ditahan, selnya kerap dikunjungi warga asing.

Siapa Marshall? Dua informasi berbeda mencuat tentang lelaki ini. Ada yang bilang dia agen Central Intelligence Agency (CIA) yang bermarkas di Washington DC, Amerika. Sebaliknya, dia disebut-sebut buronan lembaga mata-mata kelas wahid itu.

Tapi mari berpegang pada keterangan resmi Mabes Polri, bahwa Marshall adalah bekas CIA, dan sekaligus buronan lembaga mata-mata itu. Dia dituduh terlibat perdagangan senjata api gelap, dan sejumlah kejahatan lain di Amerika, Inggris, dan Rusia.

Kata polisi, Marshall agen yang licin. CIA memburunya sejak 1974. Mengantongi 50 paspor berbagai negara, dia bisa melanggang ke pelbagai penjuru dunia.

Pada Agustus 2007, dari Johor, Malaysia, dia menyeberang ke Batam. Di Indonesia, petualangannya lebih seru. Dia jatuh cinta dengan Lisna Herawati saat berada di Jakarta. Dia pun menikah dengan gadis 32 tahun itu. Mereka menetap di Cianjur. Lengkap dengan KTP dan paspor setempat.

Enam bulan kemudian, Marshall hendak meninggalkan Indonesia. Bersama Lisna, dia mengurus paspor di Kota Bogor, pada Januari 2008. Tapi, entah salah pada bagian apa, petugas Imigrasi di Bogor curiga. Kepala Imigrasi Bogor meneruskan informasi ini ke Kedutaan Besar Amerika. Lalu kedutaan itu mengutus tiga petugasnya. Di sinilah pertama kali muncul cerita Marshall adalah buronan CIA itu.

Setelah penangkapan itu, tak jelas di mana Marshall berada. Cerita soal dia simpang-siur. Informasi dari petugas Imigrasi saat itu, Marshall segera dideportasi ke Amerika.

***

Senin 14 Januari 2010. Seorang calo paspor, R. Simbolon, datang ke kantor Imigrasi Bogor di Jalan Ahmad Yani, Tanah Sareal, Kota Bogor. Simbolon membawa dokumen atas nama Robert Marshall Reid. Tujuannya mengurus paspor. “Dia menempuh prosedur normal,” kata Kepala Imigrasi Bogor, Ahmad Hasaf.

Petugas pun meminta Simbolon membawa Marshall pada Selasa 15 Januari 2010. Lelaki itu tiba pukul 10.30 WIB, bersama istrinya Lisna Herawati. Petugas mewawancarainya kembali. Aneh memang. Petugas imigrasi seperti tak punya data pemeriksaan Marshall dua tahun silam.

Tapi toh tetap ada yang mencurigakan. Marshal mengaku warga Indonesia keturunan Inggris. Namun gagap bicara Indonesia. “Padahal seluruh dokumennya menunjukkan dia Indonesia asli,” kata Ahmad.

Marshall punya kartu tanda penduduk bernomor 09.5005020352.0248 yang diteken Lurah Cempaka Putih Timur, Rugan M. Faisal. Di dalam KTP itu tertulis Robert beragama Islam, lahir di Jakarta, dan beralamat di Jalan Cempaka Putih Tengah XV/6 RT 01/08, Jakarta Pusat.

Selain KTP, ada juga buku nikah bernomor 134/52/III/2006, diteken H. Damar yang disebut petugas Kantor Urusan Agama Mampangprapatan, Jakarta Selatan. Di kolom isteri tertera nama Lisna dengan wali nikah Badang, seorang purnawirawan TNI.

Dokumen itu diduga palsu. Untuk kedua kalinya Marshall digiring ke ruang Pengawas dan Penindak Keimigrasian. Sayangnya, si calo Simbolon yang hendak diperiksa sudah kabur duluan. Lisna juga tak bisa menjawab soal status kewarganegaraan Marshall. ”Selanjutnya, saya melaporkannya ke Kedutaan Amerika,” kata Ahmad.

Hari itu juga tiga petugas Kedutaan Amerika datang ke Bogor. Setelah berbicara dengan Marshall dan meneliti data-datanya, tiga petugas itu mengakui Marshall warga negara mereka. “Disebutkan, Marshall pelaku tindak kriminal dan buronan tiga negara yakni AS, Inggris dan Rusia,” katanya.

Menurut informasi dari Kedutaan Amerika yang masuk ke Ahmad, Marshall terlibat kasus cek kosong, pemalsuan dokumen, dan senjata illegal. Cerita ini persis seperti disampaikan petugas Kedutaan Amerika dua tahun lalu.

Sehari kemudian, Marshall dititipkan ke tahanan Mabes Polri. Di sinilah muncul informasi Marshall adalah agen CIA. “Kami mencari tahu apa motifnya berada di Indonesia,” kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Ito Sumardi.

***

Jejak CIA di Indonesia, sepertinya juga bukan hal baru. Setidaknya, cerita itu sudah muncul sejak lembaga intel berdiri 1947. Pada masa itu, Harry S. Truman memimpin Amerika (1945-1953), dan dia membuat doktrin mengisolasi Uni Sovyet secara politik dan ideologi. Amerika lalu rajin menghadang komunisme di seluruh dunia.

Pada masa Sukarno, yang anti imperialisme, dan condong ke Partai Komunis Indonesia, Indonesia menjadi intaian CIA. Tercatat sejumlah pemberontakan dalam negeri, disebut-sebut berkait dengan intelijen Amerika. Sepak terjang lembaga intel Abang Sam ini pernah diulas tajam dalam Legacy of Ashes, the History of CIA, karya Tim Weiner, wartawan The New York Times, pemenang Pulitzer.

Setelah Sukarno tumbang, cerita soal intel Amerika beraksi di Indonesia muncul samar-samar. Layaknya organisasi intel, tak tercium geraknya. Paling banter, tudingan diarahkan ke jaringan Amerika di lingkaran elit teknokrat. Pada awal orde baru, sempat mencuat sebutan Mafia Berkeley, semacam koneksi elit pendukung orde baru, yang di didik di Universitas Berkeley, California, Amerika.

Nama CIA juga timbul tenggelam. Terakhir, misalnya, ada tudingan Laboratorium Namru-2 di Departemen Kesehatan bekerja untuk kepentingan intelijen Amerika. Namru adalah kerjasama Departemen Kesehatan RI dan Angkatan Laut Amerika sejak 1975.

Dua lembaga swadaya masyarakat, An Nashr Institute dan Medical Emergency Rescue Committee menuding lab itu bekerja untuk intelijen Amerika. Para peneliti Namru, kata mereka, boleh membawa penelitian ke luar Indonesia tanpa diperiksa.

Terakhir, nama CIA mencuat tatkala penangkapan Umar al Faruq di Bogor pada 2002. Dicokoknya al-Faruq adalah bagian “perang melawan teror” yang digelorakan George W Bush setelah serangan al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin, ke dua menara WTC di New York, 11 September 2001.

Amerika menuding Al-Faruq kaki tangan jaringan bin Ladin di Asia Tenggara. Persembunyian Umar terbongkar setelah polisi mendapat bisikan informasi dari CIA. Al-Faruq lalu dijebloskan ke penjara Amerika Serikat di Bagram, Afghanistan. Memang, ada cerita dia berhasil kabur, dan kembali ke Irak, negara kelahirannya. Lalu, Al-Faruq diberitakan tewas dalam pertempuran di Basra, Irak Selatan, pada Oktober 2006.

Sejak itu, nama intel Amerika kerap muncul dalam aksi anti teroris di nusantara. Tentu saja, semua dalam format kerjasama Amerika-Indonesia.

***

Lalu apa tugas si ‘agen’ Marshall yang tertangkap di Bogor ini? Pemeriksaan pun dilakukan intensif oleh berbagai lembaga. Selain polisi, Marshall juga ditelisik oleh aparat Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Tapi jawabannya toh sama. Kepada penyidik, Marshal menampik bahwa dirinya adalah CIA. Sayangnya, tak banyak informasi keluar dari mulutnya. Dari Kedutaan Besar Amerika juga tak ada komentar soal ini.

Sampai lelaki berhidung tinggi dengan lengkung tajam itu dipaksa pulang ke negerinya, Marshall hanya dinyatakan bersalah karena satu hal: melanggar aturan imigrasi. “Soal intelijen saya belum tahu,” kata Ito Sumardi. (vivanews.com)

22 January 2010

Pluralisme


Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

"Our goal is a Christian nation. We have a Biblical duty, we are called by God, to conquer this country.. We don't want equal time. We don't want pluralism." Randall Terry, Founder of Operation Rescue.

Itulah sekelumit cetusan hati seorang penganut Kristen. Randall mungkin terlalu keras dan di cap intoleran. Tapi apa salahnya orang berda’wah jika itu perintah. Mestinya, dalam masyarakat yang plural, pernyataan Randall adalah jamak.

Mestinya Randal pernah baca tulisan Akbar S Ahmed tahun 90 an “Postmodernisme dipicu oleh semangat pluralism”. Tapi kini Randal merasa pluralisme bagai orde zaman postmo. Sebab ia memiliki rencana, bala tentara dan dana. Dipromosikan pada area sacred yakni agama, dan profane yakni masyarakat luas. Ini merupakan kelanjutan proyek Barat modern yakni sekularisasi. Pengembangan paham pluralism pada masyarakat modern, Peter Berger (1967) membantu proses sekularisasi. Padahal pada kesempatan lain dia pernah menyatakan sekularisasi umat Islam telah gagal kini sebagai gantinya adalah pluralism.

Tidak hanya merupakan program ganda, pluralisme pun merupakan kata bersayap. Terkadang bermakna toleransi dan disaat lain berarti relativisme. Dalam Religious 'Pluralism' or Tolerance?" Robert E. Regier & Timothy J. Dailey, juga tegas bahwa banyak orang hari ini yang dibingungkan oleh istilah toleransi keagamaan tradisional Barat dengan pluralism agama. Yang kedua berasumsi semua agama adalah sama-sama valid. Ini menurutnya menghasilkan relativisme moral dan ketidak beraturan etika (ethical chaos). Tokoh Katholik yang lain Rick Rood menulis “Pluralisme agama adalah pandangan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya sebagai jalan menuju Tuhan…. Perbedaan antara agama hanyalah permukaan; semua menuju pada tujuan yang sama. Inilah sayap pluralism, yang kiri toleransi dan yang kanan adalah relativisme.

Pandangan relativis juga ada dalam pikiran Diana L Eck, pimpinan proyek pluralisme Amerika. Agama-agama dan pandangan hidup sekuler adalah sama benar dan validnya. Benar jika dilihat dari dalam kulturnya sendiri. Maka dalam strategi Diana L. Eck., dalam "The challenge of pluralism," pluralitas digandengkan dengan pluralism. Sebab pluralitas saja tidak cukup, seorang pluralis harus terlibat inten. Artinya mengakui pluralitas agama tidak cukup, mestinya mengakui realitas kebenaran agama-agama. Itulah target program pluralisme.

Pengertian Diana didukung Ronald Thiemann. Dalam buku Toward a Confucian Pluralism: Globalization in Dialogue ia jelaskan bahwa pluralism itu adalah keyakinan bahwa kebenaran keyakinan kita tidak terbukti dengan sendirinya (self evident). Ini bukan berarti tidak punya bukti, tapi bukti kita tidak bisa meyakinkan orang yang tidak setuju. Seorang pluralis juga harus yakin bahwa orang yang tidak setuju dengan kita juga rasional. Artinya seorang pluralis harus mengakui rasionalitas atau validitas agama lain.

Pandangan Ronald jelas sekali relativistis, tapi Ronald berkilah, itu bukan relativis. Sebab pluralis tidak memaksa orang lain percaya, katanya. Kita bisa saja punya bukti kebenaran yang kuat, lanjtunya, tapi itu tidak akan memaksa orang lain percaya keimanan kita.

Tapi tidak semua sepakat dengan pandangan yang pro pluralisme. Kalangan gereja telah lama gerah dengan paham pluralism. Maka tidak heran jika Dr. Dawe Robert L. Dabney dalam Christian Century May 12, 1982 menulis bahwa gaung pluralisme telah memasuki ruang-ruang gereja. “Namun pemahaman kita cenderung sosiologi daripada teologis” tulisnya. Menurut professor teologi sistimatis di Union Theological Seminary, Richmond, Virginia itu pluralism mempunyai dua sisi negative-positif. Disatu sisi gereja harus terima berbagai pandangan baik konservatif ataupun liberal, yang alim atau yang brengsek, feminis atau tradisionalis, aliran kiri atau kanan. Disisi lain orang diluar gereja merasa senang sebab dengan pluralisme tidak ada lagi upaya menyingkirkan orang yang tak sefaham.

Dalam sebuah interview tahun 1998 teolog Anglican John Stott tegas menyatakan pluralism adalah mengakui kebenaran setiap agama, dan menolak untuk memilih diantara semua agama atau juga menolak penyebaran agama Kristen (evangelisme). Lebih telak lagi pernyataan rekannya, Gregory Koukl. Dalam sebuah interview radio tentang pluralism ia mengatakan “saya rasa konsep pluralisme agama masa kini adalah bodoh (stupid)….konsep bodohnya adalah ide bahwa semua agama pada dasarnya sama-sama benar”. Dalam bahasa informal America ia katakanya That is just flat out stupid.

John Carroll, uskup pertama Baltimore menyatakaan dengan pluralisme gereja Katholik di Amerika dapat dua keuntungan, dari jusifikasi politik dan teologis. Tapi pada saat yang sama juga mendapat tantangan dari situasi sosial yang pluralistis. Disatu sisi dituntut toleransi sipil atau sosial disisi lain intoleransi teologis. Jika gagal dalam hal ini taruhannya Katholik menjadi tidak laku dipasaran. Disisi lain Caroll khawatir akan ada persaingan antara kelompok agama dan ini tentu membahayakan kehidupan sipil.

Para peneliti sosiologi agama juga membuktikan kekhawatiran para petinggi gereja. Para peneliti menemukan bahwa pluralism agama melemahkan keterlibatan masyarakat dalam agama. Bagi Finke and Stark (1988) dengan pluralisme monopoli keagamaan menjadi “malas” alias tidak semangat dan diganti dengan meningkatnya kompetisi antar agama agar sesuai dengan kebutuhan. Ketika Negara atau lembaga publik tidak lagi mengobarkan kebaikan suatu agama, maka pemeluk agama-agama itu akan kehilangan kualitas atau intensitas keimanan atau kepercayaan pada agamanya. Disitu keterlibatan masyaraka pada agama menjadi turun. Semakin pluralis seseorang semakin rendah semangatnya pergi ke gereja.

Sensus di Kanada oleh Olson and Hadaway (1998), membuktitkan bahwa pluralisme menggergoti semangat masyarakat dalam kegiatan keagamaan di Amerika Utara. Pendekatan kognitif Berger malah lebih jelas bahwa dengan pluralisme agama individu menjadi sulit mengimani agama tertentu. Stark and Bainbridge (1987) juga mencatat ketika seseorang berbeda pendapat tentang (ajaran) suatu agama, maka salah satunya akan berkurang keimanannya. Kesimpulan Joseph M. Mcshane, S.J., Dosen religious studies di LeMoyne College in Syracuse, New York menarik dicermati. Dalam 200 tahun gereja-gereja Amerika menikmati “karunia” pluralisme tapi 40 tahun terakhir, gereja akhirnya harus menanggung efek pluralism yang merusak. Kini beda antara penganut Katholik dan orang Amerika biasa telah hilang.

Di negeri ini “dagangan” pluralisme laris manis di pasar cendekiawan Muslim. Disertasi, workshop, LSM, seminar, jurnal mendukung penuh paham pluralisme, teologis atau sosiologis. Bahkan di negeri para pluralis membuka sorga bagi semua agama. Di suatu saat nanti mungkin menjelang ajal seorang Kyai boleh di baptis, dan setelah dimakamkan seorang pendeta boleh di talqin, agar di alam sana bisa memilih sorga masing-masing yang “plural” itu. Wallahu a’lam

15 January 2010

Jaringan Terorisme Amerika


Oleh: Irfan S Awwas

Amnesti International melaporkan, jurang pemisah antara Muslim dan non-Muslim semakin dalam yang dipicu oleh strategi diskriminasi kontraterorisme negara-negara Barat. Laporan yang dikeluarkan di London, Inggris, 23 Mei 2007 itu, menunjuk pelanggaran HAM banyak terjadi di Irak dan Afghanistan oleh pasukan internasional yang dipimpin agresor Amerika Serikat. Kondisi itu secara tidak langsung telah mengubah geopolitik dunia.

Menurut Ketua Amnesti Internasional, Irene Kahn, politik ketakutan meningkatkan upaya penentangan terhadap HAM. Perang melawan teror dan perang Irak dengan banyak pelanggaran HAM, meningkatkan perbedaan dalam hubungan internasional. "Lima tahun setelah tragedi 11 September, AS menganggap dunia sebagai sebuah medan tempur yang besar dalam perang melawan terorisme," kata Khan.

Menyimak laporan tersebut dan banyaknya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan AS, pantaslah jika publik Indonesia menuntut pemerintah (dalam hal ini Mabes Polri) untuk meninjau ulang keterlibatan Indonesia dalam misi global war on terrorism yang dilancarkan Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Singapura. Membiarkan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror sebagai alat Amerika untuk menangkap aktivis Muslim yang diduga terlibat terorisme, hanya akan menjadi pukulan berat bagi upaya penegakan hak asasi manusia.

Sejak UU Antiterorisme No 15 tahun 2003, disahkan oleh DPR, korbannya adalah aktivis Muslim. Pihak non-Muslim yang melakukan aksi teror, belum pernah menjadi sasaran UU tersebut. Karena itu, sangat disayangkan pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Sisno Adiwinoto, yang bersifat provokatif, dan dapat meningkatkan kondisi traumatis masyarakat. Mabes Polri menuding Tim Pembela Muslim (TPM), yang jadi pembela keluarga Yusron, sebagai bagian dari jaringan teroris.

Penangkapan Yusron Mahmudi yang diindikasikan polisi sebagai Abu Dujana, 9 Juni 2007 di Banyumas, memang tragis. Densus 88 menembak kaki Yusron di depan kedua anaknya yang berteriak histeris sambil menangis. Pola penangkapan menggunakan cara-cara brutal, agaknya disesuaikan dengan agenda, target, dan orientasi pihak asing, seperti yang diperagakan di Guantanamo atau penjara-penjara Amerika di Irak maupun Afghanistan. Tujuannya untuk mengesankan betapa berbahayanya para teroris itu. Boleh jadi juga sebagai alat promosi, bahwa keberhasilan menangkap Abu Dujana, membuktikan heroisme aparat keamanan.

Dikesankan Hebat
Penonjolan segala atribut militan pada tersangka teroris oleh polisi, berpotensi menyesatkan opini untuk membangkitkan kebencian masyarakat. Sebagaimana di zaman orde baru, upaya menciptakan musuh negara melalui isu antisubversi, sekarang pencitraan buruk dilakukan lewat isu terorisme untuk mengesankan bahwa di tubuh gerakan Islam masih tersimpan potensi berbahaya. Dengan begitu, segala tindakan represif terhadap kelompok yang distigma sebagai Jamaah Islamiyah (JI) dianggap absah.

Pengamat Intelijen, Dynno Chressbon, memasukkan Abu Dujana bersama Dulmatin, Noordin M Top, Zulkarnaen, dan Aris Munandar sebagai five star (lima bintang) jaringan teroris di Asia Tenggara. Mereka dianggap simpul jaringan pelaku teror Poso, Ambon, Bali, dan Jakarta. Bahkan, informan polisi berkewarganegaraan Malaysia, Nasir Abbas, yang mengaku dirinya aktivis JI yang 'tobat' menyebut Abu Dujana sebagai orang cermat, cerdas, dan kreatif. Pemimpin yang luar biasa sempurna dengan penuh inisiatif, orang yang dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi.

Kepolisian mempromosikan nama Abu Dujana sebagai manusia berbahaya, militan JI, jago perakit bom, dan dimasukkan dalam daftar 10 orang buronan teroris. Masih kurang menyeramkan, ditambah lagi, Abu Dujana sebagai motor penggerak JI bersama pemimpin lainnya, yakni Dulmatin dan Umar Patek. Keduanya lolos dari baku tembak dan penyergapan dengan pasukan khusus Filipina, Januari 2007 di Mindanao.

Namun, segala cerita kehebatan Abu Dujana, ternyata isapan jempol belaka, ibarat kucing disangka harimau. Baru tiga hari dalam tahanan polisi, ia mulai ngoceh tentang segala aktivitas terornya, dan kronologi keterlibatannya di JI. Sikap yang sama sekali tidak menunjukkan militansi seorang teroris sebagaimana dipropagandakan polisi. Patut dipertanyakan, Yusron Mahmudi yang ditangkap di Banyumas, dan kemudian disebut Abu Dujana itu benar-benar teroris yang berbahaya, atau hanya teroris versi Mabes Polri? Sebab, tidak ada indikasi sebagai sosok militan dalam dirinya. Menurut koordinator TPM, Mahenderadatta, dari seluruh BAP para tersangka kasus terorisme dan fakta persidangan, nama Abu Dujana tidak pernah muncul.

Harus Disikapi
Kemunculan Sidney Jones di setiap penangkapan tersangka teroris patut dicurigai. Pengetahuannya tentang simpul teroris, pola rekrutmen, dan peta wilayah gerakan kelompok Islam garis keras yang diidentifikasi sebagai teroris, cukup luas.

Sebagai corong Amerika, ia lihai menanamkan ketakutan di benak masyarakat. Dalam publikasi ICG, Sidney mengindikasikan Pulau Jawa sebagai wilayah potensial lahirnya terorisme. "Kultur gerakan atau organisasi di pulau yang melahirkan banyak wali itu masih sangat kuat. Karena itu, tidak mustahil berbagai gerakan tumbuh, dan bahkan sebagai tempat yang aman untuk persembunyian teroris," katanya.

Sidney Jones mengesankan Walisongo sebagai benih penyemai terorisme. Pernyataan seperti ini merupakan penghinaan terhadap bangsa Indonesia dan Walisongo khususnya, maka para ulama tidak boleh diam menyikapi pernyataan ini. Selain itu, dia mengisyaratkan adanya skenario memandulkan Islam dari Indonesia agar tidak lagi muncul para pengemban dakwah penerus misi Islam Walisongo. Segala ini membuktikan satu hal, bahwa Sidney memiliki andil besar dalam menciptakan jaringan terorisme Amerika di Indonesia. Sinyalemen itu dikhawatirkan menjadi rekomendasi Densus 88 Antiteror untuk semakin meningkatkan pengawasan dan intimidasi terhadap gerakan Islam di negeri ini.

Fenomena Sidney Jones, kemudian Nasir Abbas, dianggap punya legitimasi kuat untuk membentuk public opinion, baik kaitannya dengan terorisme maupun JI. Dalam kaitan ini, ucapan Dr Tim Behrend, peneliti dan Guru Besar di Universitas Auckland, New Zealand, patut diperhatikan. "Bersamaan dengan globalisasi tata keamanan baru berdasarkan kepentingan dan tafsir politik Amerika, muncul pula ajang penyelenggaraannya, sebuah ruang yang terbentuk dan dipertahankan bukan saja lewat proses-proses politik, tetapi secara mendasar melalui dinamika sebuah pasaran baru, sebut saja pasaran ilmu sekuritas atau pasaran industri terorisme."

Selanjutnya Behrend menulis dalam Risalah Mujahidin bahwa tiidak mengherankan di dunia pascakolonial ini bahwa mayoritas pakar yang memperoleh dan menjual keahlian di pasar ini berasal atau berafiliasi dengan AS dan sekutunya. Ahli Indonesia tidak begitu laku di pasar baru ini, kecuali sebagai narasumber atau asisten yang suaranya berpaduan dengan koor Barat yang berhasil menembus pasar. (Riol)

Ikhtisar
  • Laporan Amensti Internasional yang menyebutkan bahwa di Afghanistan dan Irak banyak terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan pasukan internasional pimpinan Amerika.
  • Kondisi ini semestinya menjadi bahan pemikiran bagi pemerintah Indonesia untuk memikirkan kembali partisipasinya dalam proyek global perang melawan terorisme gagasan Amerika.
  • Kesan bahwa pemerintah Indonesia hanya menuruti keinginan Amerika dalam iasu terorisme terasa sangat kuat.
  • Islam banyak sekali mendapatkan kerugian dari program perang melawan teroris bikinan Amerika tersebut.

Adakah Dagang Sapi

Antara KPK dan Presiden?



Koordinator Government Watch (Gowa) Farid R Faqih mensinyalir KPK tidak berani menindaklanjuti kasus Anggodo Widjojo karena markus papan atas itu diduga dilindungi Presiden. Ketakutan KPK terhadap Anggodo juga disebabkan oleh adanya dugaan tukar guling antara pembebasan Bibit-Chandra dan kasus-kasus besar, seperti skandal Bank Century. “Mungkin Bibit-Chandra telah sepakat dengan SBY untuk tidak mengutak-atik Anggodo, Century, atau kasus besar lainnya. Aromanya begitu jelas,” ujar Farid kepada Sri Widodo dari Indonesia Monitor, Rabu, (6/1). Berikut ini petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda melihat kerja KPK pasca kasus Bibit-Chandra?
Terhadap kasus-kasus yang sangat diharapkan masyarakat terutama soal pemberantasan markus, KPK berjalan bagaikan siput, sangat lambat. Seharusnya KPK lebih tanggap melakukannnya, karena itu harapan masyarakat. KPK jangan melupakan jasa masyarakat yang begitu luas terhadap kasus Bibit-Chandra dengan melepaskan jeratan pihak kejaksaan dan kepolisian. Kepercayaan masyarakat jangan disia-siakan.

Kasus besar mana yang seharusnya ditindak cepat?
Kasus Century dan Anggodo. KPK tidak bertindak cepat terhadap Anggodo dan semua orang yang terlibat dalam rekaman yang disampaikan oleh KPK sendiri.

Apakah ada perubahan penindakan yang dilakukan KPK sebelum dan pasca kasus Bibit-Chandra?
Saya melihat KPK telah berubah menjadi lamban. Saya khawatir ada politik dagang sapi antara KPK dan Presiden dalam menangani kasus Anggodo.

"Sapi" seperti apa yang diduga diperdagangkan Presiden?
Ha... ha... ha... Saya yakin ada semacam tukar guling. ‘Ok, lu gua bebasin, tapi lu jangan kutak-kutik lagi kasus Anggodo dan Century’. Feeling saya benar, ketika ternyata KPK lamban menangani Anggodo. Kalau KPK cepat menangani Anggodo sebagai raja markus, SBY kan tidak perlu membuat tim baru untuk menangani markus. Ini hanya buang-buang duit saja.

Kapan dugaan tukar guling itu terjadi?
Dugaan saya, sehari sebelum Bibit-Chandra dibebaskan. Ketika itu mereka dipanggil ke Istana. Itu menjadi kesan yang buruk di masyarakat bahwa ada semacam transaksi politik antara SBY dan Bibit-Chandra. Itu akan terus menjadi pertanyaan masyarakat, kenapa Presiden tidak menuntut Anggodo dalam pencemaran nama baik, karena Anggodo menyebutnyebut nama Presiden sebagai orang yang melindungi dirinya. Padahal dalam kasus yang lain (Eggi Sudjana dan Zaenal Maarif), SBY bereaksi dengan sangat cepat.

Adakah faktor lain yang membuat KPK lelet?
KPK memiliki vested interest sangat tinggi terhadap pemerintah. Begitu banyak anggota KPK yang setelah keluar lalu menjadi pejabat BUMN. Ratusan kasus BUMN tidak ada yang ditangani KPK sampai selesai. Karena kalau itu digarap, KPK tidak punya pekerjaan setelah keluar dari KPK. Ini semakin menambah kepercayaan saya bahwa ada negosiasi politik antara Bibit-Chandra dan SBY.

Apa benang merah yang bisa ditarik antara pensiunan KPK dan jabatan di BUMN?
Mantan Meneg BUMN Sugiharto mengatakan, ada lebih dari 160 kasus korupsi di BUMN, namun sampai saat ini tidak ada satupun kasus BUMN yang sampai ke pengadilan.

Mengapa ini bisa terjadi?
Sudah banyak contoh. Taufiequrrachman Ruki, mantan Ketua KPK langsung jadi Komisaris Utama PT Krakatau Steel. Waluyo setelah tidak menjabat Wakil Ketua KPK, jadi Direktur Umum dan Personlia Pertamina. Mantan pimpinan KPK yang lain, Erry Riyana Hardjapamekas juga didaulat menjadi Komisaris Utama BNI. Ini preseden yang tidak baik. Ini menimbulkan conflict of interest dari anggota KPK untuk tidak mau menangani kasus BUMN, karena mereka khawatir tidak akan bisa diterima kerja di BUMN setelah tidak menjabat di KPK.

Jadi ada preseden setiap pensiunan KPK mendapatkan pekerjaan di BUMN?
Itu pasti, saya yakin sekali, karena sudah jelas contohnya. Setelah pensiun dari KPK, mereka pasti kerja di BUMN, karena pendahulunya sudah memberikan contoh. Kalau mau kerja seharusnya jangan di BUMN dong. Sesuai dengan bidangnya, menjadi staf ahli polisi, staf ahli kejaksaan agung, anggota BPK, atau menjadi BPKP, bukan masuk dalam bidang yang memiliki kasus korupsi.

Adakah hubungan khusus antara Anggodo dan SBY sehingga KPK takut mengusut?
Kalau kita lihat dari pernyataan Anggodo dan Yuliana, jelas mereka memiliki hubungan dekat dengan SBY. Pejabat hukum kita saat ini mayoritas berasal dari Jawa Timur, sedangkan Anggodo sudah terkenal sebagai markus besar di Jawa Timur. Lalu Edi Sumarsono yang katanya pegiat LSM dan wartawan, itu juga sudah terkenal sebagai markus di Jakarta. Dia kan sudah lama memperdagangkan kasus, bekerjasama dengan kejaksaan. Lihat saja kehidupan Edi, mana ada LSM hidup mewah.

Kalau masyarakat kecewa terhadap kerja KPK, kira-kira apa yang terjadi?
Mungkin serangan balik masyarakat ke KPK, karena harapannya tidak terpenuhi. Bahkan di forum-forum diskusi sudah semakin banyak orang mempertanyakan kinerja KPK yang semakin lambat.

Perlukah Bibit Chandra menyampaikan ke publik apa yang mereka bicarakan saat dipanggil ke Istana oleh presiden?
Sangat perlu dan harus disampaikan ke publik, apa yang dibicarakan sedetil-detilnya, sehingga KPK dipercaya lagi oleh masyarakat. KPK juga harus sadar bahwa upaya pemerintah yang ingin menghancurkan KPK, memang betul-betul ada. ■

14 January 2010

Rekayasa Bom Desember 2003


Isu teror Desember tidak hanya menimbulkan traumatik sosial bagi umat. Lebih dari itu, umat mulai menjauh dari anasir Islam.

A khir-akhir ini umat Islam kerap mendengar informasi ‘aneh’. Bahkan, sebagian informasi itu menjadi pembicaraan hangat di sejumlah aktivis Islam. Salah satu informasi yang paling santer adalah kegiatan sekelompok orang di kawasan lereng Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari perbincangan itu diketahui bahwa mereka sedang mengadakan latihan “perang”. Seperti halnya tentara, mereka serius melatih fisik, stamina dan memakai senjata, baik laras panjang maupun pendek.

Bahkan, mereka diajari merakit berbagai jenis bom. Konon, mereka tak dapat dipandang sebelah mata. Sebab, mereka mampu merakit bom dengan kemampuan daya ledak tinggi.

Masih dari perbincangan tersebut, kabarnya pihak asing (bule) juga ikut terlibat. Jumlahnya sebanyak dua orang. Seorang di antaranya bertugas sebagai penjemput mereka ke lokasi latihan.

Apa tujuannya? Tujuan akhirnya adalah melakukan aksi peledakan bom di sejumlah daerah di Indonesia. Infonya, sasaran ledakan bom adalah sejumlah perkantoran dan pusat-pusat keramaian.

Namun, berita yang sempat menjadi perbincangan serius sejumlah aktivis ini, ternyata tak jelas. Hasil investigasi Sabili ke daerah lereng Gunung Galunggung, ternyata tidak menemui tanda-tanda bekas latihan perang tersebut. Tak ada jejak sepatu lars di lokasi itu. Di sana tidak juga ditemui sisa-sisa bahan peledak.

Berdasarkan keterangan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi, mereka tak pernah mendengar ada latihan perang. “Saya tidak pernah mendengar ada latihan perang di sini,” ujar H.A Kusnadi, tokoh masyarakat setempat.

Hal serupa dikatakan tokoh masyarakat Tasik yang dekat dengan kalangan aktivis Islam under ground (bawah tanah), KH. Zenzen. “Beberapa waktu lalu ada orang ke mari, tapi mereka Rihlah (tamasya). Kegiatan mereka atas sepengetahuan pejabat desa,” katanya

Selain informasi latihan perang sekelompok orang di lereng Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat, sejumlah aktivis Islam juga mendapat informasi lain. Kali ini soal sepak terjang “Kelompok Serang”. Dari situ didapat keterangan bahwa kini Kelompok Serang sedang melakukan konsolidasi untuk bergerak kembali.

Saat ini, masih dari informasi itu, mereka sedang latihan merakit bom dan senjata. Rencananya, aksi akan diadakan sebelum pemilihan umum (Pemilu) tahun 2004 nanti.

Latar belakang aksi, mereka kecewa terhadap kinerja polisi dan intelijen. Polisi dan intelijen dianggap tidak fair terhadap aktivis Islam. Mereka juga protes karena aparat terlalu berpihak pada asing, terutama Amerika Serikat (AS). Tujuan bom ini sebagai peringatan bagi aparat agar tidak semena-mena dalam bertindak, terutama kepada aktivis Islam.

Masih berdasarkan informasi itu, sepak terjang ‘Kelompok Serang’ dianggap tidak main-main. Selain, memiliki motivasi besar, mereka juga mempunyai jaringan luas. Kini mereka tengah menjalin kontak langsung dengan pihak lain.

Salah satunya dengan Dr. Azahari yang saat ini sedang dikejar polisi karena dituding terkait berbagai peledakan di Indonesia, seperti Bom Bali dan Marriott. Untuk aksinya tersebut, mereka pun sedang memesan bom dari Dr. Azahari.

Benarkah informasi ini?. Wallahu a’lam. Sebab hingga saat ini, Sabili belum mendapatkan keterangan jelas perihal kebenaran berita ini. Namun, berdasarkan penelusuran Sabili ke sejumlah tokoh, baik permukaan dan underground, mereka mengutarakan jawaban serupa, yakni belum banyak mengetahui informasi itu.

Namun, aneh, di tengah-tengah ketidakjelasan umat terhadap sejumlah informasi tersebut, muncul berita mengejutkan dari luar negeri. Harian The Sunday Times terbitan 28 September 2003, melaporkan, kelompok Jamaah Islamiyah (JI) akan melakukan serangan bom bulan Desember 2003 mendatang. Sasarannya, tulis harian terbitan Singapura itu, adalah sejumlah hotel internasional.

Informasi yang diakui didapat dari seorang pejabat senior intelijen Indonesia itu menyatakan, teror tersebut dilakukan generasi baru JI. Sebanyak dua belas anggota JI yang berasal dari enam jaringan teroris di Indonesia siap menciptakan teror.

Masih tulis The Sunday Times, rencana teror Desember tersebut telah dimatangkan saat pertemuan pemimpin JI di Kalimantan Timur (Pesantren Hidayatullah-red) Maret lalu bersama Zulkarnaen dan Dr. Azahari.

Isu teror akhir tahun 2003 tersebut tidak dinafikan Kepala Polri Jenderal Polisi Da’i Bachtiar. Isu Bom Desember, menurutnya, bukan tidak mungkin terjadi, sebab kelompok teroris masih memiliki sisa bom. “Karena itu kami wajib meningkatkan kewaspadaan menghadapi terorisme,” ujarnya.

Juru bicara Mabes Polri Komisaris Besar Zainuri Lubis membenarkan pendapat Da’i. Yang jelas, katanya, polisi mendapatkan informasi ada bom seberat seratus lima puluh kilogram telah selesai dirakit. “Bahan peledak itu masih dibawa para buron,” katanya.

Selain tak menafikan isu teror, Da’i mengakui adanya muka baru dalam kelompok–kelompok militan. Indikasi ini, katanya, ditandai adanya sejumlah nama baru, seperti Asmar dan Tohir. “Waktu Bom Bali meletus, belum ada nama Asmar dan Tohir. Kelompok Bali melakukan perekrutan lagi, sehingga masuk nama-nama baru,” ujarnya.

Meski membenarkan isu serangan teror di akhir tahun 2003, namun Da’i membantah jika keterangannya itu dilandasi atas laporan harian The Sunday Times. “Informasi media asing itu darimana, karena kami tidak memperoleh informasi tentang waktu dan informasi yang spesifik akan adanya ancaman itu,” katanya.

Mesti baru sekadar isu teror, namun Da’i telah memperketat keamanan. “Pengaman kami lakukan di seluruh Indonesia,” tuturnya. Agar tidak kecolongan, Da’i menyiapkan tiga langkah strategis. Pertama, membangun kerja sama intelijen, baik dalam dan luar negeri. Kedua, melakukan pengawasan preventif di tempat-tempat umum, seperti hotel dan sejumlah tempat lainnya.

Ketiga, melakukan penangkapan dan pengejaran tersangka yang belum tertangkap. “Tiga jurus ini diharapkan dapat mengantisipasi teror bom,” kata Da’i.

Tak cukup memperketat keamanan, Da’i juga meningkatkan status keamanan sejumlah daerah. Daerah seperti Bali, Jakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat, menjadi Siaga I.

Bila terjadi sesuatu yang mengganggu keamanan, lanjut Zainuri, maka polisi akan cepat meresponnya. “Namun, jika kondisi keamanan sejumlah daerah itu telah berubah, statusnya dapat saja diturunkan ke Siaga II,” kata Zainuri.

Jika Kapolri Da’i Bachtiar tidak menafikan isu ledakan bom akhir tahun dan terlihat sigap merespon isu tersebut, berbeda dengan Dosen Komunikasi Massa Fisip Universitas Hasanuddin, Azwar Hasan.

Mencuatnya isu Bom Desember ke permukaan, menurut Azwar, adalah bagian permainan intelijen. Untuk membuka pintu masuk bagi gerakan operasi dalam intelijen, kata Azwar, maka dibuat isu terlebih dahulu. Menurutnya, tempat yang paling strategis melontarkan isu tersebut adalah melalui media massa.

Sekjen Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI) ini menyatakan, tujuan Bom Desember adalah suatu pembenaran bahwa terorisme memang ada di Indonesia. Selama ini, katanya, umat Islam sangat kritis terhadap segala bentuk isu terorisme. Umat kerap menolak jika Islam dikaitkan dengan terorisme, apalagi memakai jargon Jamaah Islamiyah (JI).

Namun munculnya isu Bom Desember, kata Azwar, dapat saja membuat sikap umat berubah. Sehingga pada suatu titik tertentu, umat tidak lagi kritis terhadap persoalan terorisme. “Mereka akan pasrah terhadap tudingan bahwa Indonesia adalah sarang terorisme,” tuturnya.

Pendapat senada dikemukakan pengamat intelijen Juanda. Ia menyatakan, karena yang melansir berita Bom Desember dari negara asing, maka kita harus berhati-hati. Isu Bom Desember, katanya, adalah bagian dari permainan asing yang sangat berkepentingan dengan Indonesia. Mereka inilah yang selalu menghembuskan isu Jamaah Islamiyah (JI) dan isu-isu sejenisnya di Indonesia.

Juanda menambahkan, tragedi Bom Bali, Bom Marriot dan penangkapan aktivis serta isu Bom Desember 2003 adalah kelanjutan usaha sistematis untuk memberangus gerakan Islam di Indonesia. “Ini rangkaian rencana panjang dan global membuat gerakan Islam tidak berdaya mengekspresikan perjuangannya,” katanya.

Karena kuatnya permainan asing dalam isu Bom Desember tersebut, ia mengingatkan semua pihak, terutama polisi, TNI dan aparat intelijen agar berhati-hati menanggapi info ini. Sikap aparat, katanya, harus kritis dan jangan asal menjalankan perintah saja. “Aparat harus hati-hati, apalagi negara yang melansir isu Bom Desember itu adalah negara yang selama ini memiliki niat kurang baik terhadap kita,” ujarnya.

Tudingan Azwar dan Juanda bahwa intelijen merekayasa isu Bom Desember dibantah Da’i Bachtiar. “Itu tidak benar,” katanya. Menanggapi laporan harian The Sunday Times yang dilansir dari keterangan seorang intelijen senior Indonesia, Da’i menyatakan, jika ada informasi intelijen disebarluaskan kepada publik, padahal aturan mainnya harus diserahkan ke user, maka informasi itu belum tentu bisa dipertanggungjawabkan.

“Intelijen mempunyai aturan yang ketat. Kita tak mengetahui info itu dari intelijen mana. Dari intelijen BIN dan polisi kah. Atau dari intelijen lain. Padahal, selain di BIN dan polisi, intelijen ada juga di Kejaksaan dan bea cukai. Jadi intelijen mana?” tangkisnya.

Da’i sah-sah saja membantah keterlibatan intelijen. Namun isu serangan Bom Desember itu, berdampak buruk bagi masyarakat, terutama buat Islam. Akibat isu miring tersebut, umat betul-betul dalam keadaan terpojokkan. Kondisi ini memberi peluang besar musuh Islam menghancurkan Islam dan umatnya.

Berdasarkan penelusuran Sabili, isu terorisme tersebut membuat trauma masyarakat. Masyarakat mulai menghindar dari anasir-anasir yang berbau Islam. Sebaliknya, sebagian masyarakat mulai beralih kepada sesuatu yang berbau nasionalisme.

Jika masyarakat terus-menerus menghindar dari anasir-anasir Islam, maka dapat diprediksi jumlah masyarakat yang akan memilih partai Islam di Pemilu 2004 akan berkurang. Untuk itu, umat Islam tak boleh membiarkan hal ini terjadi.

Selain harus aktif membangun citra baik Islam di masyarakat, para aktivis Islam harus juga tetap mengedepankan daya kritisnya, terutama terhadap isu-isu terorisme yang digulirkan musuh-musuh Islam. (Sabili)

*****

Minggu, 28 September 2003, 14:48 WIB

Sunday Times: Desember, KJI Akan Bom Indonesia

Kelompok militan yang terkait Al-Qaeda merencanakan bom bunuh diri untuk menyerang beberapa hotel dan perumahan orang asing di Indonesia bulan Desember mendatang. Demikian, pejabat intelijen Indonesia yang tidak diidentifikasikan, seperti dikutip suratkabar Singapura, The Sunday Times, Minggu (28/9).

Disebutkan, Kelompok Jamaah Islamiyah (KJI) menyiapkan 12 militan dengan target beberapa hotel di Jakarta, Surabaya, dan Medan. "Perumahan dengan komunitas warga negara asing, juga berpotensi menjadi target," ujarnya.

Kepolisian Indonesia sendiri tidak terburu-buru memberikan komentar, tapi Polri dan Pemerintah negara lain telah memperingatkan rencana penyerangan bulan mendatang tersebut.

The Sunday Times, juga menyatakan, kelompok itu menggunakan Pulau Sebatik, yang terletak diantara Sabah dan Kalimantan, sebagai tempat transit senjata.

Kelompok tersebut, pindah ke pulau terpencil itu setelah beberapa tempat persembunyiannya di Jawa digerebeg. Pejabat intelijen itu juga menyebutkan KJI merupakan cabang Al-Qaeda di Asia Tenggara. (Kompas)

11 January 2010

Ada Allah yang Mengawal Saya


Jakarta - Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji sempat berencana mundur ketika disudutkan menjadi orang yang merekayasa kasus dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Selain itu, Susno juga merasa tidak mendapat dukungan dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia untuk mengklarifikasi kasus tersebut.

"Kepada Kapolri (Jendral Polisi Bambang Hendarso Danuri), saya bilang, saya mundur saja. Bukan dari Kabareskrim, tapi dari Polri. Kapolri larang. Dia bilang, jangan," kata Susno, ketika dihubungi, Jumat (8/1).

Susno urung mundur dan berkomitmen untuk mendukung Bambang Hendarso. Selanjutnya, Kapolri pun memutasinya sebagai perwira tinggi tanpa jabatan. Sebagai Pati non-job, Susno mengaku tidak memiliki tugas dan kantor.

Bahkan, dia tidak menerima tunjangan dan gajinya berkurang 60 persen. "Tapi, tidak apa-apa. Saya tidak masalah dengan jabatan apapun," kata dia.

Dia juga hanya pasrah ketika Mabes Polri mengirimkan orang untuk mengambil segala fasilitas yang melakat padanya, seperti mobil dinas, ajudan, dan sopir. Susno menyatakan, Mabes sudah merencanakan penarikan tersebut sejak lama.

Jadi, kata dia, hal tersebut tidak terkait dengan kesaksiannya di pengadilan.Sebetulnya, Susno menerangkan, ketika tidak lagi menjabat sebagai Kabareskrim, dirinya sempat mengurangi jumlah ajudan hingga separuh.

Tapi, kata dia, Kapolri mengatakan jangan dan mengembalikan lagi ajudannya. Susno menyatakan, sebagai Pati Polri, dirinya dinilai tidak membutuhkan sopir dan ajudan untuk mengawal. "Saya sopir sendiri dan ada Allah yang mengawal saya," tandas dia. [voa-islam.com]

08 January 2010

Paradoks Israel


Oleh: Shabana Syed (jurnalis Inggris)

Sangat nampak bahwa Israel memenuhi criteria dari apa yang Samuel Huntington tulis dalam teorinya yang dijuduli dengan “Clash of the Civilizations” (Perang Peradaban) yang menyatakan bahwa perang antara dunia Islam dan dunia Barat memang tidak terelakkan. Yang membuat banyak orang ketakutan saat ini adalah dampak buruk dari pembantaian yang terjadi di Gaza.

Tidak ada lagi pihak yang bisa mengalahkan jumlah korban setelah peristiwa 11 September yaitu penyerangan menara kembar selain Israel. Semenjak kejadian tanggal 11 September 2001 itu, digencarkanlah di mana-mana slogan “Perang Melawan Teror”. Bahkan sampai sekarang, pembunuhan dan serangan yang membuat banyak warga Palestina mengalami cacat tubuh di Gaza, tetap saja disebut sebagai sebuah usaha untuk melaksanakan “Perang Melawan Teror”.

Untuk melihat betapa apa yang dilakukan Israel adalah hanya untuk mengabdi kepada dunia Barat, Menteri Luar Negeri Tzipi Livni menyamakan Hamas dengan “Poros fundamentalis Islam yang jahat yang bekerjasama dengan Iran dan Hisbullah.” Menurutnya, aksi yang dilakukan Israel tidak memiliki kepentingan dengan penguasaan Tepi Barat, blokade makanan dan obat-obatan yang dilakukan di Gaza, atau fakta bahwa Israel telah membunuh dan memenjarakan hampir semua petinggi Hamas. Alih-alih dia malah mengatakan dengan penuh percaya diri:” Israel adalah bagian dari dunia yang merdeka yang selalu akan melawan ekstrimis dan teroris. Sedangkan Hamas bukan.”

Klaim Israel bahwa pertempuran yang mereka lakukan adalah usaha untuk melawan roket Hamas sudah tersebar dan merupakan sebuah kebohongan yang dimuat dalam media dan seringkali digembar-gemborkan oleh pemerintahan Barat dan mereka sama sekali tidak pernah mengungkap kebenaran yang terjadi di Gaza.

Saat gambar-gambar yang mengerikan tentang warga Palestina yang sekarat dan konvoy bantuan yang terus menerus dibom, sehingga warga Palestina selalu kekurangan obat dan makanan dan dijadikan sebagai headline di mana-mana, semua orang sekarang ini menyadari bahwa Gaza pada kenyataannya adalah sebuah penjara dimana lebih dari satu setengah juta orang berada dalam kondisi kelaparan yang parah. Blockade yang dilakukan oleh Israel di laut dan di darat memiliki arti bahwa tak ada makanan dan obat-obatan yang bisa masuk ke Gaza. Permasalahannya semakin hari semakin berat, bukan hanya kelaparan, tetapi juga kurangnya pasokan listrik dan air, pengangguran dan penyakit akibat kelaparan, serangan roket dan juga kematian.

Perang terakhir yang dilancarkan Israel di Gaza telah mengundang banyak kritik dari Negara-negara di Timur Tengah, dan menunjukkan bahwa Israel tidak memiliki itikad untuk berdamai, karena damai artinya Israel harus mengembalikan wilayah-wilayah yang selama ini sudah mereka jajah.

Setelah tanggal 11 September, Israel mendapatkan katebelece untuk melakukan terror dan menyengsarakan warga Palestina. Perang Libanon yang terjadi tahun 2006 yang dilancarkan oleh Israel ditujukan untuk membunuh sebanyak-banyaknya warga tak berdosa agar Israel mendapat sokongan dari Amerika. Selama perang Libanon, Amerika dan bangsa-bangsa Barat mem-veto gencatan senjata, memperbolehkan Israel untuk terus menerus melanjutkan pembantaian sebagaimana yang sedang mereka lakukan saat ini di Gaza.

Kebijakan Israel yang paling utama adalah penjajahan, dan hal ini terbukti dengan terus menerusnya terjadi pencurian lahan di Tepi Barat, bersama-sama dengan penghancuran rumah-rumah warga palestina, melumpuhkan ekonomi warga Palestina, dan membentuk dinding perbedaan ras. Dan jika ada orang yang bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh Ehud Olmert dari serangan ke Gaza, inilah jawabannya: Selain karena ingin memenangkan pemilu di Israel sendiri, Olmert sebetulnya memiliki dua tujuan yang lain: pertama untuk menteror warga Palestina dan membunuhi mereka, menghancurkan ketahanan mereka; yang kedua, dan inilah yang terpenting, menangguhkan segala rencana untuk membuat perjanjian damai. Ini adalah paradox dari perang Israel yang sangat kejam.

Israel ingin dominasi, bukan menyelenggarakan perdamaian.
Jonathan Cook, dalam bukunya “Blood and Religion,” (Darah dan Agama) menuding bahwa Israel memiliki pseudo-democracy (demokrasi semu) yang kejahatannya pada orang-orang Palestina merupakan program turun menurun dalam program Zionis untuk membangun sebuah kawasan Israel yang lebih besar, sebuah kondisi militer yang diperluas dan dimana akhirnya yang mereka inginkan di Israel hanya darah Yahudi dan keyakinan Yahudi.

Dalam bukunya yang berjudul “Israel and the Clash of Civilizations,” (Israel dan Perang Peradaban), dia mengatakan, “perang Iraq sama parahnya dengan apa yang dilakukan oleh Zionis sebagaimana juga yang dilakukan oleh Amerika dan memang keduanya –Amerika dan Israel—menyebarkan perselisihan dan penghancuran di dunia Muslim dan Arab.”

Dia juga menjelaskan tentang hal yang terjadi pada tahun 1980an, saat dimana keamanan Negara Yahudi mengembangkan ide mereka untuk meruntuhkan Negara-negara lain di Timur Tengah melalui sebuah kebijakan yang menimbulkan konflik agama dan etnik.

"Kebijakan yang akhirnya mereka laksanakan adalah mengekspos radikalisme Islam dan mereka memandang hal ini sebagai strategi yang sangat positif, dan dengan munculnya Hamas di wilayah jajahan, Israel sudah berhasil membuat Negara-negara Barat menjadi mewaspadai dan melabeli Islam sebagai sebuah ancaman global, sehingga proses penyerangan warga Palestina ini dipandang oleh Negara-negara Barat sebagai hal yang harus dilakukan untuk melawan ekstrimisme Islam.”

Saat Israel terus menerus melakukan pertumpahan darah di Gaza, Israel tahu bahwa hal itu pasti menimbulkan dampak pada orang-orang Muslim di dunia. Penyerangan ini menjadi bahan yang bisa membakar emosi orang Islam dan mereka berharap bahwa kemarahan ini akan membuat orang-orang Islam bertindak dengan melakukan penyerangan ke dunia Barat, dan hal ini akan menunjukkan kepada dunia bahwa Muslim begitu radikal dan ekstrim. “Ketidakadilan yang dilihat sendiri oleh orang Muslim dan membuat mereka marah akan membangkitkan kebencian mereka dan memancing mereka untuk berbuat sesuatu. Lalu dunia akan memandang bahwa Muslim sangat ekstrim dan pemahaman ini akan menyebar dan menimbulkan perang peradaban.”

Jika kita hendak belajar dari sejarah, ingatlah bahwa sejarah selalu berulang. Oleh karenanya, sebelum Israel mengoceh tentang radikalisme lebih jauh lagi, kita harus ingat dengan inti dari tulisan seorang wartawan Inggris Alan Hart yang menyatakan bahwa “Zionisme: Musuh Nyata Yahudi”, yang memperingatkan:”Anti semitisme sekarang sedang tumbuh lagi. Keironisan dan tragedi yang terjadi saat ini adalah raksasa yang sedang tidur yang dibangunkan kembali oleh negara Zionis yang mengagungkan dirinya sendiri, arogansi kekuatan negaranya, dan penghinaannya atas hukum dan hak asasi manusia yang sudah diakui dunia internasional. [muslimdaily.net]

06 January 2010

Siapa Berani Amalkan Wasiat Gus Dur?


Jakarta - Pasca meninggalnya Gus Dur, para pejabat, politisi dan pengamat sibuk dengan wacana untuk memberi penghormatan duniawi yang terakhir kepada Gus Dur. Ada yang ingin menjadikan nama Gus Dur sebagai nama jalan raya di Jakarta Pusat, menobatkannya sebagai pahlawan nasional, hingga merehabilitasi namanya dari kasus Buloggate dan Bruneigate yang melengserkan dirinya dari singgasana kepresidenan pada bulan Juli 2001 silam.

Menyanggupi usulan Partai Golkar, PDIP, PKS, PPP, PKB dan para tokoh nasional, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) setuju dan akan mempertimbangkan masukan sejumlah pihak untuk menganugerahi Gus Dur menjadi pahlawan nasional. Sesuai UU No 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang baru disahkan pada Mei tahun lalu, masukan nama calon pahlawan nasional harus dibahas lebih dulu. Yakni oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang hingga kini belum terbentuk.

“Tentu presiden sudah mendengar usul berbagai pihak. Presiden menghargai dan menerima pernyataan seperti itu dan menjadi masukan buat presiden. Namun, presiden akan tetap mengacu UU No 20/2009 yang telah disetujui bersama DPR,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, Ahad (3/1).

Sedemikian pentingkah gelar pahlawan bagi alm. Gus Dur? Ternyata tidak! Sahabat karib Gus Dur, KH Mahfudz Ridwan Lc, Pengasuh Ponpes Edi Mancoro, Tuntang, Kabupaten Semarang, menyatakan, jika saja Gus Dur masih hidup, ia pasti enggan mendapat gelar pahlawan. Pernyataan ini disampaikan di aula Ponpes setempat, Senin (4/1) malam. Keyakinan Mahfudz bukan tanpa alasan, tapi ia mengenal betul bahwa Gus Dur bukanlah orang yang suka dengan gelar.

Di samping itu, ada hal yang tak kalah pentingnya daripada penghormatan “lipstik” itu, yaitu melaksanakan wasiat Gus Dur semasa hidupnya, terutama pada detik-detik kematiannya.

..Pesannya dua, turunkan SBY dan gantikan dengan pemerintahan baru...

Budayawan Ridwan Saidi membeberkan wasiat terakhir Gus Dur yang disampaikan 30 tokoh politik pada tanggal 4 Desember 2009 di bekas kediaman mantan Wakil Ketua DPR RI Soetardjo Soerjogoeritno (Mbah Tardjo), Jalan Denpasar, Jakarta Selatan.

Ridwan menjelaskan, memang ada pada "pertemuan politik" antara dirinya, Gus Dur, dan Mbah Tardjo dengan sejumlah tokoh pada waktu itu. Hadir pula sejumlah jenderal dari kalangan TNI dan tokoh aktivis seperti Sri Bintang Pamungkas. Dalam pertemuan yang sekaligus digelar sebelum Mbah Tardjo pindah ke Lenteng Agung tersebut, Gus Dur menyampaikan keinginannya agar SBY diturunkan dari jabatan sebagai presiden RI.

“Pesannya dua, turunkan SBY dan gantikan dengan pemerintahan baru,” ujar Ridwan Saidi dalam diskusi di markas Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) di Jl Diponegoro 58 (eks kantor PDI), Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (3/1).

Hadir dalam diskusi itu antara lain pengacara Eggy Sudjana, politikus Sri Bintang Pamungkas, budayawan Ridwan Saidi, paranormal Ki Gendeng Pamungkas, dan lainnya.

Gus Dur, masih kata Ridwan, banyak mengkritik peranan asing dalam kebijakan ekonomi Indonesia. Ridwan menambahkan, kendati soal kasus Bank Century juga menjadi persoalan pokok dalam pertemuan itu.

Tuluskah penghormatan para politisi dengan rencana pemberian gelar “pahlawan” itu? Hanya Tuhan dan para politisi itu yang tahu. Jika mereka benar-benar tulus menghormati Gus Dur tanpa ada tendensi apapun, beranikah mereka melaksanakan dua wasiat Gus Dur menjelang kematiannya, yaitu menurunkan SBY dan mengganti dengan pemerintahan baru? Jika tidak, berarti mereka tidak tulus atau mereka menganggap wasiat Gus Dur tak relevan dengan kepentingan mereka. [voa-islam.com]

05 January 2010

Gerakan Pemujaan GD

Abu Muhammad Waskito (Dulu dibesarkan dalam kultur Nahdliyin, di Malang).

Terus terang, akhir-akhir ini rasanya sumpek melihat berita-berita TV. Isinya didominasi pemujaan-pemujaan terhadap Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Banyak suara-suara yang mengusulkan agar Gus Dur diangkat sebagai pahlawan nasional. Termasuk gerakan di DPR, facebook, dan sebagainya. Sementara pernyataan dari tokoh-tokoh Islam, seperti MUI, PP Muhammadiyyah, dan sebagainya “setali tiga uang”. Semua mengarah kepada upaya memuja Gus Dur. (Atau mungkin mereka ingin menempatkan Gus Dur sebagai “nabi jaman modern”? Entahlah).

Jujur saja, sikap-sikap seperti inilah yang selama puluhan tahun telah mematikan cahaya kebenaran. Ummat Islam tidak diajari bersikap tegas, jelas, dan lurus. Para elit agamawan, tokoh sosial, dan politik berlomba-lomba mencari muka, dengan resiko mengundang kemurkaan Allah Al Aziz. Na’udzubillah min dzalik.

Bayangkan, saat tahun 2001 lalu, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, mayoritas kekuatan politik di Indonesia menyerang dirinya dari berbagai sisi. Segala macam dalil-dalil untuk menjatuhkan Gus Dur, dikeluarkan semua. Termasuk foto Gus Dur memangku Ariyanti Sitepu, VCD Gus Dur dibai'at di gereja, dokumen keterlibatan Gus Dur dalam partai Ba’ats Irak, dan sebagainya. Tetapi lihatlah saat ini, setelah Gus Dur meninggal, semua orang berusaha memuja-muja Gus Dur. Seolah dia adalah "Tuhan" yang berhak diagung-agungkan.

Ummat Islam mundur terus-menerus karena sejak lama ditipu terus oleh elit-elitnya. Mereka tidak diajari sikap yang benar, konsisten, tegas, dan pemberani. Semua elit rata-rata mencari muka, dengan alasan “sikap diplomatis”. Ya, ada kalanya “sikap diplomatis” bisa dipakai. Tetapi tidak dalam segala persoalan harus memakai “sikap diplomatis”. Dalam urusan akidah yang membahayakan Ummat, seperti dalam soal film “Kiamat 2012” lalu itu, kita harus bersikap tegas.

Baiklah, mari kita bahas kembali tentang Gus Dur. Siapakah Gus Dur ini? Siapakah dia, bagaimanakah ideologinya? Bagaimana perjuangannya?

Dari sekian banyak proses pembacaan dan analisis terhadap kiprah Gus Dur sejak dia memimpin PBNU, saya dapat menyimpulkan, bahwa: “Mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika Gus Dur meninggal, adalah kesalahan. Kematian Gus Dur bukanlah musibah, tetapi bagian dari pertolongan Allah Al Aziz kepada kaum Muslimin di Indonesia.”

Ketika bicara tentang Gus Dur, maka kita harus berbicara tentang YAHUDI. Nah, inilah asas segala pembicaraan tentang Gus Dur. Siapapun yang berbicara tentang Gus Dur tanpa menyinggung gerakan Yahudi internasional, dia salah!!!

Coba kita runut masalah ini secara jernih, bi idznillah:

[01] Setiap hari kita membaca Surat Al Fatihah dalam Shalat. Disana ada doa, agar kita diberi petunjuk oleh Allah, yaitu mengikuti Shiratal Mustaqim. Shirat Al Mustaqim ini bukan jalan “al maghdhub ‘alaihim” (jalan orang yang dimurkai oleh Allah). Nabi Saw menjelaskan, bahwa kaum yang dimurkai itu adalah kaum Yahudi. Maka ketika kita bicara tentang Yahudi, otomatis kita bicara tentang suatu kaum yang dimurkai Allah Al Aziz. Ini bukan perkara sepele, tetapi amat sangat serius.

[02] Yahudi (Bani Israil) mengalami pasang-surut gerakan selama ribuan tahun. Awal gerakan mereka adalah di masa Nabi Ya’qub As dan anak keturunannya yang diberi tempat oleh raja Mesir di Kan’an. Di kalangan Bani Israil ada yang shalih-shalih, tetapi lebih banyak yang durhaka. Para Nabi-nabi, seperti Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan lain-lain ‘alaihimussalam, mereka termasuk bagian Bani Israil yang shalih-shalih.

[03] Di jaman modern, atau setidaknya setelah Eropa mengalami Renaissance, Yahudi mengalami transformasi gerakan keagamaan baru. Gerakannya berbeda dengan risalah Nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Gerakan mereka justru menginduk kepada inspirasi Samiri yang pernah membuat patung Al Baqarah (sapi betina) untuk pemujaan. Mereka mengambil ide-ide kemusyrikan dari bangsa Mesir, di jaman Fir’aun. Hampir semua simbol-simbol keagamaan yang dipakai Yahudi modern, itu digali dari peradaban kemusyrikan Mesir. Jadi, Yahudi modern bukanlah pengikut Musa, Dawud, atau Sulaiman, tetapi mengikuti Samiri yang membuat patung sapi betina untuk pemujaan. Hal itu dikuatkan dengan doktrin Talmud yang mengagung-agungkan etnis mereka, dan melecehkan Tuhan (Allah Ta’ala). Yahudi yang berpegang kepada Talmud bukanlah bagian dari Ahli Kitab, tetapi mereka adalah orang-orang musyrik yang mengikuti jalan Samiri.

[04] Secara umum, Yahudi modern terdiri dari dua komunitas besar, yaitu: Yahudi asli (original Jewish) dan Yahudi warna-warni (colored Jewish). Yahudi asli maksudnya, orang-orang yang mewarisi darah Yahudi. Darah Yahudi ditentukan oleh silsilah keturunan dari jalur ibu. Inilah manusia yang benar-benar disebut Yahudi. Dan harus dicatat, kaum Yahudi ini amat sangat ketat dalam menjaga kemurnian etnis mereka. Mereka tidak tertarik melakukan asimilasi seluas-luasnya, sebab mereka merasa sebagai “etnis terbaik di dunia”, sementara etnis lain dianggap “budak” yang bebas dieksplotasi tanpa batas. Lalu yang disebut Yahudi warna-warni adalah siapa saja dari etnis apapun selain Yahudi yang bekerja mensukseskan misi Yahudi internasional. Mereka ini bisa disebut “budak-budak” Yahudi asli. Mereka bisa orang Jawa, bisa orang pesantren, bisa bergelar kyai haji, bisa asal Jombang, dan sebagainya. Mereka itu jelas-jelas tidak berdarah Yahudi, karena ibunya bukan Yahudi, tetapi mau suka-rela berjihad membela missi Yahudi internasional.

[05] Yahudi warna-warni itu biasanya tergabung dalam organisasi-organisasi mantel pendukung Zionisme internasional. Selama ini, mereka kita kenal sebagai “Freemasonry”. Tetapi menurut ahlinya, organisasi mantel itu bisa macam-macam. Freemasonry hanya satu bentuk saja. Rizki Ridyasmara menyebut mereka sebagai kelompok Luciferian, karena mereka mengabdi kepada “tuhan” yang bernama Lucifer yang disimbolkan dalam bentuk bintang, di dalamnya ada bentuk kepala kambing bertanduk dua. Bisa dikatakan, Lucifer adalah simbolisasi Iblis itu sendiri. Kaum Freemasonry ini bisa berasal dari berbagai etnis, dari berbagai negara, dari berbagai status, ikatan keagamaan, organisasi, dan sebagainya. Tapi mereka satu kata dalam simbol keagamaan, ideologi, dan missi memperjuangkan kepentingan Yahudi nternasional.

[06] Pertanyaannya, mengapa Yahudi asli harus membentuk organisasi mantel yang bermacam-macam? Atau mengapa Yahudi asli harus meminta bantuan “Yahudi abang ijo”? Jawabnya: Yahudi membutuhkan penetrasi ke berbagai negara/etnis di dunia, untuk mendukung missi mereka. Sedangkan cara terbaik penetrasi ialah dengan memakai tangan orang-orang dari negara/etnis masing-masing. Misalnya, Yahudi mengambil seorang kyai haji sebagai agen mereka. Maka diharapkan, semua jamaah kyai haji itu akan mudah dikendalikan untuk mendukung missi Yahudi. Kemudian, Yahudi sendiri merasa dirinya terlalu suci untuk berhubungan dengan manusia-manusia lain. Mereka tidak mau “kotor tangan”, maka dipakailah agen-agen dari setiap negara untuk menggarap negara masing-masing. Soal biaya, mereka bersedia memberikan dukungan penuh.

[07] Perlu dicatat, bahwa siapapun yang terlibat dalam gerakan mantel Yahudi seperti Freemasonry, mereka bukan orang Muslim. Mereka itu kafir. Tidak diragukan lagi. Mengapa? Sebab mereka berani mengkhianati agamanya sendiri dalam rangka mensukseskan missi Yahudi. Kemudian, mereka tidak meyakini lagi bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Ideologi mereka diganti dengan humanisme, pluralisme, dan demokratisme. Kemudian, mereka selama hidupnya selalu memusuhi missi perjuangan Islam. Dan mereka ridha dengan ritual-ritual kekufuran yang berlaku di organisasi seperti Freemasonry itu.

[08] Untuk mengenali apakah seseorang terlibat Freemasonry atau tidak, sungguh tidak mudah. Mungkin hanya kerja intelijen negara yang bisa menyingkap hal itu. Tetapi seorang anggota Freemasonry bisa dikenali tanda-tandanya, misalnya: (1) Mereka bukan Yahudi asli, ibunya bukan berdarah Yahudi; (2) Selama hidupnya dia mengagung-agungkan slogan humanisme, pluralisme, dan demokrasi; (3) Dia sangat memusuhi misi perjuangan Islam, dan membenturkan misi tersebut dengan seruan Sekularisme atau Nasionalisme; (4) Dia memiliki sumbangan, sedikit atau banyak, bagi kemajuan Yahudi internasional; (5) Dia mendapat penghargaan resmi dari organisasi Yahudi internasional.

[09] Adalah sulit untuk memastikan bahwa Gus Dur adalah seorang Freemason, sebab kita tidak memiliki bukti validnya. Bisa jadi kalangan Muslim lain memiliki data tersebut, sehingga ia bisa dibuka. Namun untuk menyimpulkan, bahwa Gus Dur adalah seorang penyokong gerakan Yahudi internasional sangatlah mudah. Banyak tanda-tandanya. Misalnya, dia pernah terlibat mendirikan Shimon Perez Institute; dia pernah pergi ke Israel; dia pernah mendapat medali dari organisasi Yahudi karena keberaniannya membela kepentingan Yahudi di Indonesia; ketika menjadi Presiden RI, dia pernah hendak membuka hubungan dagang dengan Israel; Gus Dur secara formal pernah membela Yahudi di depan media massa. Dia mengatakan, “Yahudi itu orang beragama, bukan atheis. Kalau dengan Soviet yang komunis saja Indonesia mau menjalin hubungan, mengapa tidak dengan Israel?” Begitu kira-kira alasan dia ketika itu. Sangat jelas sekali bahwa Gus Dur adalah seorang Zionis (pembela Israel) dari kalangan bangsa Indonesia.

[10] Fakta kecil yang perlu disinggung, yakni kedekatan Gus Dur dengan Ahmad Dhani, dari band Dewa. Semua orang sudah tahu, bagaimana sikap Dhani kepada Gus Dur. Dhani sangat memuja-muja Gus Dur. Pendek kata, Gus Dur mau berbicara apapun, Dhani dijamin akan mendukung. Sementara Dhani ini sangat layak dicurigai sebagai bagian dari Freemasonry di Indonesia. Ada yang pernah membahas simbol-simbol yang dipakai Dhani dalam cover album-albumnya. Dhani pernah menginjak-injak kaligrafi Allah yang telah disamarkan, di atas panggung band. Kemunculan abum “Laskar Cinta” ditujukan sebagai anti-tessa “Laskar Jihad” (segala upaya Jihad untuk membela Islam). Dalam salah satu lagu hits-nya, Dhani melantunkan lirik yang kurang lebih isinya sebagai berikut, “Tak ada yang lain, selain diri-Mu yang selalu kupujaaa… Dengan mata-Mu aku melihat, dengan lidah-Mu aku bicara.” Di mata kita, mungkin lagu ini dianggap bentuk pujian kepada Allah. Maka ia dianggap sebagai lagu “pop religi” Dhani dan bandnya. Padahal bisa jadi, yang dimaksud diri-Mu, memuja-Mu, mata-Mu, lidah-Mu itu adalah Lucifer, dewa pujaan kaum Freemasonry. Sebab disana tidak ada disebutkan kata “Allah” sedikit pun. Malah kaligrafi Allah diinjak-injak oleh Dhani dan kawan-kawan. Ada sebuah informasi menarik, ketika Kraton Solo tiba-tiba menganugerahi Dhani dengan gelar “Raden”. Tidak ada angina, tidak ada hujan, tiba-tiba Dhani dianugerahi gelar itu. Dhani sendiri merasa heran dengan gelar itu, sebab dia bukan orang Jawa. Ini sangat janggal. Ada apa ini, tiba-tiba dia di-raden-kan oleh Kraton Solo? Hal lain yang tak kalah menarik, kasus Dhani dengan Mulan Jamila. Hampir tidak ada satu pun media infotainment yang menghujat sikap Dhani yang mengkhianati isterinya itu. Padahal ketika kasus yang sama menimpa pasangan artis-artis lain, media infotanment getol memberitakan hal itu. Saya juga masih ingat, betapa Dhani sangat ngefans dengan Manchester United yang dikenal dengan julukan “Setan Merah”. Ketika MU akan bertanding dengan FC Barcelona dalam Piala Champions, Dhani secara emosional mendukung MU. Malah ketika MU datang ke Malaysia, Dhani mengajak anak-anaknya datang kesana. Banyak sisi-sisi menarik seputar kiprah Dhani “Dewa” yang mencerminkan kedekatan manusia itu dengan gerakan Freemasonry.

[11] Patut diingat dengan jelas, bagaimana peranan media massa, terutama media TV dalam memuja-muja Gus Dur. Selama ini saya cukup bersimpati kepada MetroTV, sering mengakses TVOne, dan berita-berita lain. Tetapi dengan gerakan pemujaan Gus Dur, ini tampak nyata bahwa media-media itu seperti berlomba mencari keridhaan Yahudi internasional. Caranya, dengan memuja-muja Gus Dur. Sejujurnya, sejak dulu Gus Dur itu tidak ada apa-apanya. Dia menjadi besar bukan karena dirinya, tetapi karena REKAYASA MEDIA. Media yang membuat Gus Dur besar, dan media pula yang membuat tokoh-tokoh lain kecil. Bayangkan, media massa tidak pernah peduli ketika Ketua PP Persatuan Islam, KH. Shiddiq Amin wafat. Begitu pula, ketika KH. Husein Umar wafat. Media tidak mau memberitakan, atau menghargainya secara layak. Tetapi ketika ada seorang icon Yahudi di Indonesia mati, mereka berlomba-lomba melakukan “ritual pemujaan”. Sangat menyedihkan! Kalau akhirnya nanti Gus Dur benar-benar ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”, sungguh kita patut memboikot semua media-media sekuler itu. Jangan lagi merasa memiliki media, selain media yang kita buat sendiri.

[12] Orang-orang yang mengklaim dirinya pro pluralisme, pro demokrasi, pro humanisme, lalu memuja-muja Gus Dur sebagai manusia yang berjasa besar dalam ketiga isu tersebut. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang BODOH yang tidak mengerti ujung dari gerakan pluralisme, humanisme, dan demokrasi itu sendiri. Pluralisme adalah ideologi untuk mematikan keimanan kepada agama-agama (bukan hanya Islam). Seorang pluralis sejati tidak memiliki keyakinan yang kuat kepada suatu agama, selain agama pluralisme itu sendiri. Orang-orang yang berakidah humanisme, mereka mempertuhankan “kepentingan manusia”, sehingga manusia dianggap bebas merdeka, termasuk bebas dari aturan agama. Manusia yang berakidah demokrasi, mereka meyakini bahwa “suara rakyat suara Tuhan”. Artinya, cukuplah kesepakatan rakyat untuk menggantikan peranan aturan Tuhan. Ketiga prinsip (pluralisme, humanisme, demokrasi) ini adalah hakikat atheisme, sebagaimana prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Freemasonry kepada para pengikutnya.

[13] Semua orang yang memuja-muja Gus Dur, pada dasarnya tidak keluar dari 3 kemungkinan: Pertama, mereka orang bodoh yang tidak tahu informasi dan sempit wawasan. Mereka orang-orang fanatik yang tidak bisa membedakan hitam dan putih; Kedua, mereka orang oportunis yang merasa perlu mencari keridhaan umat manusia (khususnya investor Yahudi) agar mendapat keuntungan-keuntungan duniawi; Ketiga, mereka satu barisan dengan Gus Dur dalam rangka memadamkan cahaya agama Allah dan membesarkan missi Yahudi laknatullah ‘alaihim. Hanya ini kemungkinannya.

[14] Betapa banyak manusia takut kepada Gus Dur, selama hidupnya. Mereka tidak berani mengkritik Gus Dur, tidak berani berbeda pendapat, tidak berani membantah, tidak berani menentang pendapat-pendapatnya yang keliru. Termasuk, ketika Gus Dur mengatakan, bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang paling porno. Mereka tetap tidak berani mengingatkan Gus Dur. Mereka sangat takut kepada Gus Dur, karena takut kuwalat, takut celaka, takut mengalami kemalangan. Lihatlah, betapa banyak manusia sudah mempertuhankan Gus Dur. Kepada Allah mereka tidak takut, tetapi kepada Gus Dur begitu ketakutan. Realitas seperti itu adalah kemusyrikan dalam bentuk baru.

[15] Terakhir, betapa hinanya manusia yang mau membela, membantu, mendukung, menyokong, mempermudah gerakan Yahudi internasional. Padahal mereka semula adalah Muslim, orang Indonesia, orang pesantren, dan sebagainya. Sayang sekali, mereka mendukung Yahudi internasional yang terkenal dengan misi-misi kejahatan mereka untuk memperbudak seluruh manusia di dunia. Mereka mendukung gerakan yang tujuan akhirnya menjadikan semua manusia bersimpuh di telapak kaki Yahudi. Bahkan sangat disayangkan sekali, mereka lahir dari rahim wanita-wanita non Yahudi. Mengapa? Sebab selama mereka tidak memiliki darah Yahudi, statusnya tetap sebagai “budak”. Sangat menyedihkan, mereka bersusah-payah mendukung misi kerusakan di muka bumi.

Sulit bagi saya untuk memastikan, apakah Gus Dur seorang Freemason atau bukan? Tetapi setidaknya kita mendapat banyak bukti, bahwa dia adalah tokoh yang selama hidupnya banyak menolong missi-missi Yahudi internasional. Dalam Surat Al Maa’idah dikatakan, “Wan man yatawallahum, fainnahu minhum” [siapa yang loyal kepada mereka (Yahudi atau Nashrani), sesungguhnya dia bagian dari mereka].

Sekali lagi ditegaskan disini, Gus Dur bukan saja tidak pantas dianggap sebagai “pahlawan nasional”. Bahkan mengucapkan “innalillah wa inna ilaihi raji’un” saat dia mati, adalah sebuah kesalahan.

Saudaraku, Anda jangan takut kepada siapapun dalam rangka mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sekaligus Anda jangan berani memuja-muja manusia yang tidak pantas dipuji, sehingga perbuatan Anda itu akan mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Jadilah Muslim sejati yang bicara apa adanya; katakan benar jika benar, katakan salah jika salah. Demi Allah, orang-orang oportunis dimanapun tidak akan beruntung. Mereka takut dimusuhi manusia, tetapi tidak takut dimusuhi Allah Ta’ala.

Perhatikan nasib orang-orang yang saat ini berlomba-lomba memuja Gus Dur, kemudian mereka tidak bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Lihatlah apa yang nanti akan menimpa mereka! Mari kita sama-sama menyaksikan!

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu Akbar, wallahu Akbar, wallahu Akbar walillahil hamdu. [muslimdaily.net]

Fitnah Politik GD


Melecehkan Ummat Islam Maluku

13-01 Kebijakan Pemerintahan Gus Dur
13-02 Penyelesaian Lewat Jalur Hukum dan Politik
13-03 Muslim Dibantai, Gus Dur Tak Berpihak
13-04 Ambon Berdarah dan Anak Emas

Kebijakan Pemerintahan Gus Dur
Sejak terjadinya gerakan reformasi di Indonesia, telah jatuh 2 Pemerintahan yaitu Orde Baru di bawah rezim Soeharto dan Pemerin-tahan transisi di bawah BJ. Habibie. Terbentuklah kini Pemerintahan baru di bawah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melalui proses Pemilihan Umum pada Juni 1999. Karena itu Pemerintahan ini dipandang lebih kuat dengan legitimasi yang diakui semua pihak termasuk manca negara.

Bila 2 pemerintahan yang lalu sangat disibukkan oleh berbagai permasalahan perekonomian, politik dan keamanan yang mengancam keselamatan bangsa dan negara, tidak mampu diatasi dengan baik karena legitimasinya. Kini Pemerintahan Gus Dur telah berhasil mengatasai berbagai gejolak tersebut walau hasilnya belum memadai, tetapi ketenangan di bidang politik dan kemananan telah tampak, sedangkan di bidang perekonomian telah tampak adanya peluang membaik.

Karena itu diharapkan adanya perhatian yang sungguh-sungguh dari Gus Dur untuk menangani kasus Ambon/Maluku,terutama menyangkut bagaimana konflik fisik yang berkepanjangan ini dapat dihentikan, hukum dapat di tegakkan serta akibat berat yang menimpa kedua belah pihak yang berperang dapat diatasi secara bertahap menurut cara yang benar dalam pengertian kerugian ummat Islam sebagai pihak yang di dzalimi harus mendapatkan perhatian khusus karena besarnya permasalahan yang ditimbulkan merupakan bekas mereka.

Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh Presiden dirasakan belum memadai, bahkan sebaliknya merugikan ummat Islam.

1) Penunjukkan wakil Presiden Megawati untuk menangani kasus Ambon yang kemudian menunjuk lagi Prof. Dr. Selo Sumardji sebagai penasehat Wapres untuk kasus Ambon. Ummat Islam pesimis akan mendapatkan perlakuan yang adil dengan penyelesaian yang tuntas. Megawati Sukarnoputri yang ketua umum DPP PDI-P dua periode tidak populer dikalangan ummat Islam sebab penisbatannya sebagai Ina Ratu (Ibu Raja) oleh DPP PDI-P Maluku berdampak membesar-besarkan peranan megawati terhadap PDI-P Maluku padahal PDI-P Maluku bukan ex-PNI tetapi mereka ex-Parkindo dan ex-Partai Katolik yang pribadi-pribadinya berperang dengan ummat Islam.

2) Kedatangan Presiden Gus Dur dengan Wapres Megawati bersama para menteri dan rombongan besar pada tanggal 12 Desember 1999 ke Ambon untuk menyelesaikan kasus Ambon/Maluku ternyata mengeluarkan pernyataan yang sangat mengagetkan ummat Islam, yaitu menyerahkan penyelesaian konflik kepada masyarakat Ambon/Maluku sendiri, Pemerintah Pusat hanya akan memberikan dorongan. Kerusuhan yang tidak kunjung berhasil diatasi selama 1 tahun ini oleh masyarakat Ambon/Maluku, kini justru diserahkan kembali untuk diselesaikan sendiri. Presiden seperti tidak berminat mengatasi konflik yang berlatar belakang agama ini. Apakah Presiden tak punya keberanian untuk menjatuhkan vonis bersalah kepada pihak Kristen yang nyata-nyata mendzalimi ummat Islam?

3) Aktivitas langkah-langkah FPDI-P dan DPR RI ketika secara khusus ke Ambon untuk mencarikan model solusi sebagai saran kepada Wapres jelas berbau kepentingan PDI-P. Sedangkan mereka tidak pernah menghubungi pihak Islam selama di Ambon. Dikhawatirkan Wapres akan mendapat informasi keliru yang merugikan pihak Islam yang akhirnya kebijaksanaan Wapres sebagai yang diberi tugas khusus oleh Presiden akan menentukan kebijaksanaan yang jauh dari harapan ummat Islam.

4) Pernyataan Gus Dur setelah kembali dari kunjungan dari beberapa negara Eropa diantaranya ke Negeri Belanda menyatakan bahwa RMS seperti yang kita kenal sudah tidak ada, yang RMS sekarang adalah organisasi Kemanusian, karena itu bantuan mereka untuk Maluku akan kita terima. Pernyataan ini sekali lagi telah mengaburkan duduk permasalahan RMS yang dalam kerusuhan Ambon ini telah berperan aktif sebagai otak dan penggerak kerusuhan justru diselamatkan oleh Gus Dur. Pernyataan itu, sadar ataupun tidak, telah mendukung aktifitas pihak Krisrten dan sekali lagi ummat Islam dikecewakan.

5) Telah turun ke Ambon panitia kerja DPR (Panja DPR) untuk Maluku ternyata sampai saat ini belum mengeluarkan sesuatu pendapat.

6) KPP HAM yang sengaja dibentuk untuk mencari penyelesaian yang di pimpin Bambang Suharto yang telah bekerja di lapangan cukup lama dan pasti menemukan penyebab dan siapa yang bersalah, ternyata belum membuat suatu laporan yang transparan untuk diketahui masyarakat. Pihak yang bersalah terkesan dilindungi, hal seperti ini justru akan mempersulit penyelesaian.

7) Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Tamaela yang telah empat kali diberitakan positif akan diganti ternyata pada kali terakhir yang sudah begitu santer tidak jadi, dibatalkan, bahkan yang tergeser Letjen TNI Suadi Marasibessi Kasum ABRI yang dalam penanganan kasus Ambon/Maluku ini telah memiliki konsep yang arahnya membongkar RMS yang terlibat. Penggantian ini oleh ummat Islam dikaitkan dengan pernyataan Gus Dur bahwa RMS sudah tidak ada lagi serta peran Megawati sebagai pemegang proyek Maluku yang meminta agar tidak ada pergantian pejabat di Maluku. Sampai hari ini tidak jelas arah penanganan kasus Maluku, tetap pada pendapat bahwa yang terjadi ini adalah konflik horisontal tidak melibatkan RMS. Pendapat seperti itu terlihat tidak ada upaya untuk mengejar RMS sebagai organisasi yang mengendalikan kerusuhan. Kerusuhan ini musta-hil berjalan tanpa direncanakan dan dilaksanakan oleh suatu organisasi apapun namanya. Akibat kebijaksanaan seperti itu tidak tampak kelanjutan dari segala upaya yang telah dilakukan oleh Gus Dur.

Penyelesaian Lewat Jalur Hukum dan Politik
Dalam situasi yang mulai tenang dicanangkan untuk dimulai proses rekonsiliasi yang bentuknya belum jelas, apakah rekonsiliasi akan dilaku-kan dalam bentuk maaf-maafan, tanpa adanya sanksi yang jelas bagi pihak yang bersalah?. Kalau demikian, jelas persoalannya belum selesai, kemungkinan terulang di waktu lain sangat besar, sebab permasalahan-nya terus ditutup-tutupi sementara ada pihak yang diselamatkan. Karena itu ummat Islam memasalahkan bentuk rekonsiliasi seperti itu. Ummat Islam akan tetap menuntut Presiden Abdurrahman Wahid untuk lebih adil tidak melindungi pihak Kristen dengan menggelar peradilan yang transparan untuk membongkar keseluruhan permasalahan perang aga-ma ini sampai keakar-akarnya dan menindak para aktor intelektual dengan mereka yang terlibat agar bencana terhadap ummat Islam di waktu yang menjadi hilang.

Sikap presiden Gus Dur dalam menangani konflik Maluku, kian lama semakin memprihatinkan ummat Islam. Lebih-lebih setelah ia mengemukakan pernyataan saat membuka seminar “Internasional untuk men-cari bentuk ideal negara Indonesia masa depan”di Istana Negara selasa tanggal 28 - 3 - 2000. Diberitakan oleh harian Republika terbitan tanggal 29 - 3- 2000 bahwa Gus Dur menyatakan bahwa di mata dia, konflik dan kerusuhan di Maluku berawal dari ketidak adilan pemerintah sebelumnya (era Suharto) dalam memperlakukan ummat Kristen. Masa sepuluh tahun terakhir pemerintah lalu telah memberikan perlakuan istimewa sekaligus anak emas (golden boy) bagi masyarakat Islam di Maluku, mengakibatkan keseimbangan terganggu. Termasuk 38 jabatan penting di propinsi tersebut yang sebelumnya di bagi antara Muslim dan kristen, kemudian diserahkan kepada Muslim semuanya, pihak Kristen merasa sempat terganggu, ketika masyarakat Kristen memprotes, pemerintah lokal dan pusat memutuskan untuk melindas protes tersebut, Konflik menjadi begitu besar. Dan karena militan muslim yang diperlakukan sebagai golden boy, maka menyerbulah mereka ke perkampungan Kristen sehingga eskalasi pun terjadi antara militan kristen dan Muslim.

Pernyataan presiden yang begitu ngawur membuat ummat Islam amat prihatin, karena apa yang disampaikan itu merupakan pemutar balikan fakta secara tidak bermoral, terutama oleh mereka yang membisikkan ke kuping Gus Dur. Keadaan menjadi terbalik 180 derajat bila ummat Islam di anak-emaskan, apalagi menyerang ke perkampungan Kristen. Mengapa Gus Dur berat sebelah dan bersikap diskriminatif, lebih percaya pada cerita pihak Kristen yang selalu berbohong secara terang-terangan?. Gus Dur secara khusus telah ke Ambon untuk mengetahui kasus ini, wakil presiden telah ditunjuk untuk menangani kasus kerusuhan Ambon. Ada panja DPR dan KPP HAM juga telah datang ke Ambon. Mengapa informasi dari pihak Kristen lebih dipercaya?.

Ummat Islam menuntut penyelesaian lewat jalur hukum, tetapi enggan dilakukan. Sikap presiden yang seperti itu, mungkinkah proses hukum dapat berlangsung secara adil?.

Apakah tidak akan ada intervensi dari presiden yang mempengaruhi jalannya proses peradilan, sehingga yang salah dibenarkan dan sebaliknya, ummat Islam yang tidak bersalah harus menelan kepahitan karena di nyatakan bersalah. Jika demikian halnya, apa yang dapat diharapkan dari Gus Dur sebagai presiden dengan legitimasi kuat?. Semua kekhawatiran ini akan terus mengganggu benak kaum muslimin, terutama saat-saat upaya rekonsiliasi sedang digalakkan sekarang ini.

TIDAK semua orang punya bakat besar yang mampu berperan ganda seperti Gus Dur. Terutama dalam hal memainkan karakter sebagai muslim, sekaligus memusuhi Islam dan ummat Islam. Di masa Rasulullah karakter tersebut bisa kita temui pada sosok Abdullah bin Ubay. Dan pada dunia internet, karakter seperti itu bisa kita temui pada sosok Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo, Hasan Basri alias Proletar serta Edizal.

Bakat besar Gus Dur, sudah muncul ketika ia masih belum jadi “apa-apa”, ketika ia masih menjadi salah satu kader NU (Nahdlatul Ulama). Ketika pembantaian terhadap ummat Islam di Tanjung Priok, 12 September 1984, Gus Dur muda justru menunjukkan keberpihakan- nya kepada Benny Moerdani (Panglima ABRI kala itu), dan menemani Beny ke berbagai pesantren, untuk meyakinkan para Kyai pesantren bahwa peristiwa Tanjung Priok bukanlah peristiwa pembantaian terha-dap ummat Islam, namun hanya kesalahan prosedur biasa.

Muslim Dibantai, Gus Dur Tak Berpihak
Karakter seperti itu terus hidup hingga kini. Ketika awal bencana pembantaian ummat Islam di Ambon pertama kali berlangsung, 19 Januari 1999, yang kemudian dikenal dengan istilah Idul Fitri Berdarah, ketika itu Gus Dur belum menjabat Presiden, ia sama sekali tidak menunjukkan simpati dan empatinya kepada korban, justru mencari-cari kambing hitam dengan menyebut-kan “Brigjen K” sebagai provokator, kemudian diralat-nya menjadi “Mayjen K” sebagai provokator bencana Ambon tersebut.

Ketika kasus pembantaian warga Muslim meledak akhir Desember 1999 lalu di Tobelo, Galela, Jailolo, Sahu dan Loloda (Pulau Halmahera Utara, Maluku Utara), dan menyebabkan ribuan nyawa orang-orang Islam melayang, Gus Dur sebagai Presiden RI justru mengatakan bahwa korban dari bencana itu cuma lima orang. Sebuah pernyataan yang sangat riskan dan tidak bertanggung jawab. Apalagi terbukti kemudian, Max Tamaela (Pangdam Pattimura, yang dijuluki sebagai algojo pembantai Muslim) akhirnya terpaksa mengakui, terdapat lebih dari tujuh ratus nyawa melayang dari bencana tersebut, dan hampir seluruhnya adalah ummat Islam.

Mengenai pembantaian Muslim di Halmahera Utara itu, ada sebuah informasi menarik yang dikemukakan oleh dudi-firmansyah@goplay.com, yang pernah dipublikasikan di milis Sabili edisi 17 Januari 2000, dengan judul: Pembantaian Muslim Di Galela

Pengepungan kecamatan Galela (komunitas Islam) oleh 7 kecamatan lain (komunitas Kristen) sudah dikhawatirkan oleh banyak tokoh dan orang Galela sendiri. Masalah ini sudah dilaporkan oleh masyarakat Galela kepada orang-orangnya di Jakarta, yang kemudian oleh Thamrin Amal Tomagola dilaporkan kepada Gus Dur.

Presiden Gus Dur pun kemudian langsung memanggil Suaidi Marasabessy guna mengatasi hal tersebut. Suaidi Marasabessy sempat heran juga pada mulanya, mengapa berita pengepungan itu tidak pernah sampai ke mabes TNI?. Mengapa laporan itu langsung masuk ke telinga Presiden, sementara mereka sebagai aparat TNI tidak pernah mendapat laporan.

Dari sini sudah jelas terlihat bahwa TNI sendiri kecolongan, tidak mendapat informasi yang cukup tentang pengepungan kecamatan Galela (komunitas Islam) oleh orang-orang Kristen di sekitarnya, karena Panglima di sana adalah Brigjen Max Tamaela.

Berhubung orang-orang Maluku itu khawatir terhadap penyerbuan itu, maka Suaidi Marasabessy langsung menyetujui pengiriman pasukan ke kecamatan Galela (tempat di mana komunitas Muslim sedang dikepung). Beberapa tokoh masyarakat yang menghadap Suaidi memperlihatkan sebuah peta Maluku-Halmahera, dan memberikan saran, bila hendak mengirim pasukan jangan didaratkan di Ternate, tetapi langsung saja ke Morotai. Karena perjalanan dari Morotai ke Galela hanya 1 jam (melalui udara), sedangkan bila dari Ternate memakan waktu 22 jam.

Kemudian Suaidi Marasabessy menghubungi Kodim di Tobelo agar menerima pasukan yang datang di Morotai dan hendaknya Dandim Tobelo melakukan koordinasi dengan Pangdam setempat. Kenyataannya pasukan tidak dipersilakan mendarat di Morotai tetapi mendarat di Ternate. Akibatnya perjalanan pasukan dari pelabuhan udara Ternate menuju Galela memakan waktu 22 jam. Padahal seharusnya hanya 1 jam, bila pasukan kiriman itu didaratkan di Morotai.

Dalam waktu 22 jam, sebelum tentara mendarat, terjadilah pembantaian besar-besaran di kecamatan Galela. Ini jelas skandal (pembantaian) luar biasa biadabnya yang dilakukan Brigjen Max Tamaela. Sebagai Pangdam, sebagai aparat TNI Max Tamaela sudah sangat berpihak kepada kalangan Kristen. Jelas sekali Max Tamaela dengan sadar dan kejam merencanakan pembantaian terhadap sekitar dua ribuan ummat Islam di kecamatan Galela (hanya) dalam satu malam.

Bagaimana sikap Gus Dur kemudian?. Ternyata hingga kini Max Tamaela, sang algojo itu masih tetap aktif di institusi TNI, dan tidak termasuk Pangdam yang diganti pada musim mutasi Pati TNI baru-baru ini. Konon, Max Tamaela dipertahankan berkat lobby Wapres Megawati kepada Gus Dur. Dan bisa dipastikan, Megawati juga telah dilobby oleh kalangan Kristen di Ambon, yang kesemuanya adalah aktivis PDI-P.

Hal ini menunjukkan, bahwa pemerintahan Gus Dur dan Mega adalah bencana bagi ummat Islam, sebagaimana ditunjukkan melalui sikap dan ucapan mereka terhadap kasus Ambon. Ketika bencana pembantaian di Galela berlangsung, Wapres Megawati sedang berlibur ke Hongkong, bersama keluarganya, padahal oleh Presiden ia ditugaskan mengatasi kasus Ambon.

Ada informasi menarik yang menjelaskan alasan mengapa Mega dan keluarganya menjalankan liburan akhir tahun ke Hongkong. Menurut Gus Dur, wapres Megawati ke Hongkong bukan untuk merayakan ulang-tahun suaminya (Taufik Kiemas), bukan pula untuk menyongsong terbitnya matahari pertama tahun 2000. Tetapi untuk melakukan perjalanan bisnis.

Yang jelas, kepergian Mega ke Hongkong bersama Taufik Kiemas, beserta anak-anaknya, bukanlah dalam rangka mengadakan buka puasa bersama, shalat tarawih bersama, sahur bersama dengan masyarakat Muslim di sana, tetapi untuk menjalin hubungan bisnis dengan pengusaha Hongkong.

Sialnya, atau untungnya, ketika Mega bersama suami dan anak-anaknya ke Hongkong, para pebisnis di sana sedang cuti akhir tahun, sekaligus cuti Natalan, sehingga urusan bisnis seperti disebutkan Gus Dur tidak terlaksana dengan semestinya. Akibatnya, Mega dan keluarganya pun “terpaksa” berlibur dan berbelanja sepuas-puasnya di Hongkong, sampai akhirnya Gus “Presiden” Dur memanggilnya pulang, karena adanya kasus Halmahera.

Kisah dibalik kisah “mengapa Mega ke Hongkong?” sebenarnya ada kaitannya dengan Tanri Abeng. Pada pemerintahan Habibie, Tanri Abeng telah menjual hak pengelolaan pelabuhan peti kemas di Jakarta kepada sebuah perusahaan milik keturunan Cina asal Hongkong. Pengusaha Hongkong tersebut yang telah mengetahui adanya penggantian kepemimpinan nasional di Indonesia, segera mendekati Taufik Kiemas, suami wapres Megawati, dalam rangka melanggengkan bisnisnya itu.

Sang pengusaha Cina Hongkong itu pun menjamu keluarga Megawati untuk merayakan tahun baru di Hongkong sepuas-puasnya, dan semewah-mewahnya. Sepulangnya dari sana Taufik Kiemas mendapat hadiah satu unit Toyota Landcruiser terbaru, yang nilainya di Indonesia mencapai harga Rp 900 juta, juga satu unit mobil Mercy tipe terbaru.

Begitulah mentalitas pejabat kita saat ini, yang nampaknya tidak jauh berbeda dengan para pejabat di zaman Orde Baru. Bahkan kini, Taufik Kiemas pun mempunyai hak opsi pengelolaan pelabuhan peti kemas tersebut. Hebat bukan?

Sementara rakyat di tanah air kelaparan, dan ribuan muslim di Galela (Halmahera) dibantai, Megawati dan keluarganya justru asyik berlibur ke Hongkong, memenuhi jamuan seorang pengusaha keturunan Cina, berbelanja sepuasnya, sambil merayakan ultah suaminya dan menyong-song tahun 2000 dengan acara yang mewah meriah.

Dan kalau toh akhirnya Wapres Megawati mempercepat liburan akhir tahunnya di Hongkong itu, setelah Presiden Gus Dur memanggilnya pulang, bukan berarti bencana yang menimpa ummat Islam agak sedikit terobati. Sebab, ketika Wapres Megawati mengunjungi Halmahera, yang ia datangi justru pengungsi non Islam bukan pengungsi dan korban dari kalangan Islam yang benar-benar menderita. Maka, bantuan sandang-pangan, obat-obatan, uang tunai sebesar 1,5 miliar rupiah dari Wapres Megawati pun dinikmati oleh pengungsi non Islam tadi, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan korban dan pengungsi dari kalangan Islam.

Ambon Berdarah dan Anak Emas
Pada harian Republika edisi 29 Maret 2000 (23 Dzulhijjah 1420 H) Gus Dur mengeluarkan statemen politik yang diskriminatif dengan mengatakan, bahwa gejolak dan konflik di Maluku terjadi akibat pada era Soeharto kalangan Kristen diperlakukan tidak adil, sebaliknya masya-rakat Islam diperlakukan bagaikan anak emas.

Selengkapnya, pernyataan Gus Dur itu sebagai berikut: Gejolak Maluku terjadi, akibat Islam dianak-emaskan’. “Jika dulu Belanda mengambil orang-orang Kristen untuk posisi militer dan pemerintahan, dalam era Soeharto pemerintah merekrut Muslim.”

Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kembali membuat pernyataan yang mengejutkan, kali ini tentang konflik Maluku. Di mata dia, konflik dan kerusuhan di wilayah Maluku berawal dari keti-dak-adilan pemerintah sebelumnya (era Soeharto) dalam memperlakukan umat Kristen.

“Masa sepuluh tahun ter-akhir pemerintah lalu, telah memberikan perlakukan istimewa sebagai anak emas (golden boy) bagi masyarakat Islam di Maluku,” katanya saat membuka seminar Internasional “ Mencari Bentuk Ideal Negara Indonesia Masa Depan”, di Istana Negara, Selasa (28/3). Kondisi itu, sambungnya, kemudian mengakibatkan kese-imbangan antara Kristen dan Islam terganggu.

Menurut Abdurrahman, jika dulu Belanda mengambil orang-orang Kristen untuk posisi militer dan pemerintahan, dalam sepuluh tahun terakhir era Soeharto, pemerintah merekrut Muslim sangat banyak dibanding Kristen. “Ini termasuk 38 posisi penting di provinsi tersebut, yang sebelumnya, posisi tersebut dibagi antara Muslim dan Kristen, kemudian diserahkan kepada Muslim semua. Ini lalu menjadikan pemeluk Kristen merasa sangat terganggu.”-

Ketika masyarakat Kristen memprotesnya, lanjut Abdurrahman, pemerintah lokal dan pusat memutuskan untuk melindas protes tersebut. Dan, akhirnya konflik jadi begitu besar. Dan karena militan Muslim yang diperlakukan sebagai golden boy (anak emas), maka me-nyerbulah mereka ke kampung Kristen, sehingga ekskalasi pun terjadi antara rnilitan Kristen dan Muslim.

Menurutnya, apa yang terjadi di Ambon, Maluku, dan Papua menunjukkan betapa aspirasi dari propinsi-propinsi tersebut tak tersalurkan. Sehingga, akhirnya merebak dalam bentuk protes massa. Solusi bagi masalah ini, kata Abdurrahman, pemerintah setempat harus banyak berkomunikasi dengan masyarakat luar tapi tetap menggunakan emosi lokal.

Pernyataan Gus Dur itu tak pelak mengundang sesal tokoh agama. Sekjen DDII Hussein Umar dan tokoh NU KH Ilyas Ruchiyat yang dimintai komentarnya soal pernyataan SARA Gus Dur itu, sama-sama menyayangkan karena pernyataan tersebut tidak didukung data akurat

“Kasus-kasus yang terjadi di Ambon karena sebab lain. Bukan karena dimanjakan. Apanya yang dimanjakan?” kata Ilyas ketika dihubungi di kediamannya. Menurut dia, ada yang kurang serasi dalam pergaulan, sehingga yang besar merasa unggul dan yang kecil merasa dipinggirkan. Akibatnya satu sama lain saling curiga.

Ilyas berpendapat selama ini perlakuan terhadap semua agama sama. Dia mengambil contoh di Departemen Agama di mana di situ dibentuk dirjen dari semua agama. “Hanya saja, mungkin karena umat Islam jumlahnya besar maka kegiatannya terlihat lebih banyak,” katanya.

Hingga saat ini, menurut KH Ilyas, kerukunan yang didambakan memang belum berhasil. Ini bukan berarti pemerintah tak pernah berusha. Karena, menurutnya, setiap pemerintahan selalu berupaya men-ciptakan keserasian hidup antar umat beragama. Dia berharap nantinya terjadi perubahan persepsi sehingga yang besar tidak merasa unggul dan yang minoritas tak merasa dipinggirkan.

Hussein sendiri selain menyesalkan, juga khawatir jika pernyataan Abdurrahman itu bisa membuat umat Islam marah dan kecewa. Dia menganggap pernyataan Gus Dur itu tidak akan menyelesaikan kasus tersebut. “Gus Dur terlalu menyederhanakan persoalan di Maluku. Padahal kasus sebenarnya tidaklah demikian,” tegas Hussein Umar.

Malah sebaliknya, menurut keterangan para tokoh Muslim Maluku yang datang ke Jakarta, selama ini umat Islam banyak menerima ketidakadilan. Banyak posisi yang tidak dibagi secara proporsional. “Dan umat Islam selama ini selalu dipinggirkan,” kata Hussein.

Seharusnya, kata Hussein, sebagai Kepala Negara, Gus Dur tidak perlu melontarkan pernyataan sensitif seperti itu. Karena dikhawatirkan dari pernyataan tersebut akan menimbulkan bias, dan membuat kemara-han bagi umat Islam. “Pernyataan Gus Dur ini bisa menimbulkan kekece-waan bagi umat Islam. Apalagi kondisi di Maluku sendiri belum aman, masih banyak peristiwa sporadis di beberapa lokasi,” papar Hussein Umar.

Komentar berbagai pihak pun bermunculan, antara lain dari Sekjen PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), “…Dr. Pattiasina, menyang-kal pandangan yang menyatakan konflik di Maluku dipicu sikap pemerintah era Soeharto yang menganak-emaskan umat Islam. Menurut-nya, umat Islam justru mendapat perhatian Soeharto pada periode akhir pemerintahannya.” (Republika Kamis 30 Maret 2000).

Di majalah Forum Keadilan edisi 9 April 2000, Dicky Mailoa, Ketua Crisis Center PGI untuk masalah Maluku tidak menepis adanya penganak-emasan umat Islam pada dasawarsa terakhir era Soeharto, namun “…pada saat itu belum menghasilkan konflik, tapi hanya menghasilkan prakondisi yang tidak sehat.” Sedangkan Pendeta Arnold Nicolas Radjawane, anggota DPR asal Maluku, membantah adanya ketidak-puasan itu, “Tidak benar bahwa umat Kristen tidak puas, lalu marah dan berkonflik dengan saudara muslimnya.”

Di milis Sabili, Hasan Rasyidi berkomentar, bahwa pernyataan Gus Dur tidak hanya menyakitkan hati umat Islam, juga merupakan sebuah pernyataan yang tidak bermoral. Gus Dur Kambing Hitamkan Umat Islam Ambon, katanya.

Selanjutnya ia katakan:”Lagi-lagi Gus Dur membuat ulah. Kali ini dia mengatakan bahwa kerusuhan di Maluku terjadi karena umat Islam di Ambon dianak-emaskan.

Sosiolog UI, Ahmad Thamrin Tamagola membantah hal ini. Dia menganggap Gus Dur terlalu menyepelekan masalah. Sesungguhnya, pada zaman Belanda hingga awal pemerintahan Orba, umat Kristen yang dianak-emaskan. Mereka jadi pejabat-pejabat serta prajurit-prajurit militer. Toh dengan penganak emasan tersebut, umat Islam mampu bersikap sabar, karena mereka orang yang beradab.

Tapi begitu umat Islam yang disisihkan dari birokrasi dan militer, berwiraswasta dan menjadi makmur serta memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada tahun 1980-an, setelah para sarjana Muslim pulang ke Ambon, maka barulah Muslim Ambon berhasil memperoleh posisi-posisi yang penting.

Nah, umat Kristen yang biasa dianak-emaskan ini begitu merasa ter-singkir, akhirnya marah dan membantai ribuan umat Islam. Inilah yang terjadi. Seandainya umat Kristen tidak biadab, tak mungkin pembantaian tersebut bisa terjadi.

Jadi statement Gus Dur itu benar-benar menyakitkan hati umat Islam. Umat Islam Ambon sudah dibantai, lalu disalahkan pula oleh Gus Dur. Benar-benar tidak bermoral.

Para komentator itu mungkin benar, bahwa pernyataan Gus Dur tentang akar masalah kasus Ambon-Maluku berupa dianak-emaskannya masyarakat Islam, merupakan pernyataan yang tidak bermoral, sebab pada kenyataannya kalangan Islam-lah yang selalu dirugikan.

Dalam buku “Ambon Bersimbah Darah” karya H. Hartono Ahmad Jaiz, sejarawan Ambon, Thamrin Ely mengatakan, “Orang Ambon yang Kristen mendapat perlakuan istimewa dari VOC dan pemerintah kolonial. Mereka menikmati pendidikan, belajar bahasa Melayu, dan akhirnya diperbolehkan memasuki jajaran administrasi…”

Thamrin Ely juga mencatat, “Gubernur Maluku yang pertama adalah seorang Kristen Protestan, Mr. Latuharhari. Begitu juga beberapa gubernur berikutnya. Banyak posisi kursi di pemerintahan sejak awal kemerdekaan dipegang warga Kristen. Umat Islam tidak memprotes.”

“Tapi saat dua gubernur terakhir, Akib Latuconsina dan Saleh Latuconsina, yang Muslim asli Maluku, memberi beberapa jabatan kursi kepada Muslim, dan itu pun masih belum representatif, kelompok Kristen tidak puas. Lantas mereka menghembuskan issu bahwa Islam menguasai lembaga pemerintahan…” demikian papar Thamrin Ely sebagaimana dikutip oleh H. Hartono Ahmad Jaiz.

Jadi, yang sebenarnya dijadikan anak emas (golden boy) bukanlah masyarakat Maluku yang Islam, tetapi masyarakat Maluku yang Kristen. Masyarakat Maluku Kristen ini sudah termanjakan oleh situasi sejak zaman kolonial Belanda, yang pada akhirnya tidak membuat mereka mampu menjadi anggota masyarakat yang fair dan demokratis.

Masih dalam buku yang sama, Thamrin Ely mencontohkan, “Organisasi-organisasi Kristen, misalnya, protes saat Kolonel Junaidi Panegoro diusulkan oleh ABRI untuk duduk di kursi Walikota beberapa tahun lalu. Alasannya, tak sesuai dengan keadaan penduduk kota Ambon yang jumlah pemeluk Kristennya lebih besar. Maka Junaidi pun ditarik, dan naiklah Chritanasale, seorang Kristen. Umat Islam menerima, bahkan yang pertama memberikan dukungan adalah HMI Ambon.”

Tidak hanya menyangkut jabatan struktural di birokrasi pemerinta-han saja yang menjadi hajat Kristen Maluku, terhadap organisasi kepemu-daan pun Kristen Maluku sangat menunjukkan sikap sektarianistis yang pekat, sebagaimana dicontohkan Thamrin Ely, “…Orang Islam diam saja saat ketua dan sekretaris KNPI dipegang Kristen. Tapi ketika Muslim menduduki jabatan ketua, kalangan Kristen langsung protes, dan meminta pertimbangan kekuasaan. Begitu juga di Golkar. Sebaliknya, umat Islam tidak bereaksi apa-apa terhadap dominasi Kristen di Universitas Pattimura.”

Sejauh ini, tidak pernah terdengar suara protes dari Gus Dur, mana-kala umat Islam di Maluku didzalimi oleh masyarakat Maluku Kristen. Gus Dur hanya bersuara ketika masyarakat Kristen Maluku menghembus- kan adanya Islamisasi di tubuh pemerintahan daerah dan organisasi atau lembaga strategis lainnya.

Rustam Kastor, Brigjen TNI Purnawirawan kelahiran Ambon, dalam bukunya berjudul “Fakta, Data dan Analisa: Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon-Maluku” menyimpulkan bahwa kasus Ambon-Maluku bukan sekedar konflik antar penduduk berbeda agama, namun ada hal-hal yang lebih substan-sial sebagai penyebabnya yaitu , “…konspirasi besar yang telah memanfa-atkan konflik Kristen-Islam yang telah berlangsung ratusan tahun untuk kepentingan politik Kristen di Indonesia dalam rangka merebut posisi yang lebih kuat setelah tergeser oleh kekuatan Islam dalam dasa warsa terakhir.”

Jadi, adanya ekskalasi kecemburuan masyarakat Kristen Ambon-Maluku terhadap masyarakat Islam Ambon-Maluku, hanyalah media penghantar terjadinya konflik. Potensi konflik itu memang ada dan sewaktu-waktu meletup, namun masih dalam batas konflik yang tidak berkepanjangan dan nyaris tidak terencana.

Sedangkan kasus Moslem Cleansing atau genocide yang terjadi sejak 19 Januari 1999 (Idul Fitri Berdarah), adalah peristiwa politik (kepentingan politik Kristen) yang memanfaatkan potensi konflik tadi. Dan diselenggara kan dengan seksama, sistematis serta terencana. Fakta-fakta yang dianalisis oleh Rustam Kastor menunjukkan hal itu.

Sejauh ini, potensi konflik Islam-Kristen di Ambon-Maluku berhasil diredam melalui konsep Pela-Gandong, yang berhasil menelurkan sebuah perdamaian semu. Karena konsep itu sendiri merupakan konsep rekayasa semata yang hanya menguntungkan pihak Kristen.

Ada sebuah pandangan mengenai konsep Pela-Gandong ini, yang dipublikasikan oleh Markus Kapalapica di milis [Indonesia-Views], 19 Januari 2000 sebagai berikut: Sebutan Pela Gandong yang dibangga-banggakan orang Maluku sebenarnya tidak benar adanya. Hubungan Pela Gandong yang terdapat pada orang Maluku sebenarnya hanyalah sebuah rekayasa Pemerintahan Belanda pada saat menjajah Indonesia dengan Maluku sebagai sasaran-nya karena rempah-rempah yang ingin dikuasai.

Ada kisah menarik mengenai hal ini: Awalnya kepulauan Maluku itu adalah sebuah jazirah yang penuh dan makmur dengan hasil alam yang berlimpah-ruah, dan berpenduduk mayoritas Muslim. Di saat Belan-da menjajah dan menggarap Maluku, kaum Muslim Maluku tidak bisa menerima kehadiran mereka sehingga timbul perlawanan bersenjata dari Raja-raja dan Sultan-sultan yang berada di Maluku, antara lain Raja Leihitu, Raja Leitimur, Sultan Tidore, Sultan Ternate, Sultan Khairun, Sultan Babullah dan lain-lain.

Karena adanya perlawanan yang sengit dari masyarakat Muslim Maluku, maka Belanda mulai melancarkan Politik “Devide et Impera” alias Politik Memecah Belah. Belanda masuk ke Maluku membawa tiga misi yaitu: Gold, Glory, dan Gospel.

Gold, adalah misi Belanda untuk mengeruk harta. Glory, untuk mendapatkan kemuliaan di mata masyarakat. Gospel, membawa misi Kristen dengan iming-iming materi sehingga masyarakat Maluku yang tadinya adalah mayoritas Muslim menjadi terpengaruh dan terpecah dua: Muslim dan non Muslim.

Pada setiap kampung di Maluku selalu terbagi menjadi dua komunitas yaitu komunitas Muslim dan non Muslim, dan itu adalah keberhasilan Belanda dalam politik Pecah Belahnya. Contoh, kampung Iha (Muslim) dan Ihamahu (non Muslim), awalnya kedua kampung ini adalah satu yaitu Iha, tetapi karena penduduk Iha yang membangkang maka mem-bentuk daerah baru yang disebut Ihamahu (Iha yang membangkang).

Karena sering terjadi perkelahian antara kampung Muslim dan non Muslim yang pro Belanda, maka agar dapat diterima di semua komunitas masyarakat Maluku, Belanda mulai membentuk persahabatan yang tidak bisa dipisahkan dengan saling membantu dan bergotong royong dengan membuat Pela Gandong.

Untuk memperluas daerah jajahannya, Belanda menggunakan masyarakat Maluku yang pro kepadanya untuk memperluas daerah kekuasaannya dengan jalan membentuk pela gandong dengan daerah baru yang Muslim. Demikianlah kisah Pela Gandong yang selalu di-bangga-banggakan, padahal hanyalah politik penjajah.

Jadi, kalau Gus Dur mengatakan bahwa pada dasawarsa terakhir era Soeharto terjadi penganak-emasan terhadap masyarakat Islam di Ambon-Maluku, dan dari situlah terjadi peristiwa berdarah yang berke-panjangan, Gus Dur sangat terkesan melantur. Kalau toh terjadi proses pengakomodasian terhadap masyarakat Islam Ambon-Maluku di posisi tertentu di dalam birokrasi dan sebagainya, itu semua tepatnya merupa-kan proses proporsionalisasi, sehingga masyarakat Islam di Ambon-Maluku tidak terus berada dalam posisi pecundang yang didzalimi. Apalagi kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat Islam Ambon-Maluku yang selama masa kolonialisasi tertinggal di segala bidang, mulai menunjukkan jati dirinya. Sementara itu, Kristen Ambon-Maluku lebih cenderung merantau ke luar Maluku menjadi penyanyi, petinju, dan preman.

Sesungguhnya Gus Dur memang sudah sangat keterlaluan. Bila pada masa dasawarsa terakhir era Soeharto yang dinilainya menjadikan masyarakat Islam di Ambon-Maluku sebagai golden boy, mengapa Gus Dur seperti tidak mampu menilai masa suram dan kelam yang dialami masyarakat Islam di Ambon-Maluku sejak masa kolonialisasi hingga menjelang dasawarsa terakhir era Soeharto? Apalagi pada kenyataannya, Soeharto memang tidak pernah menganak-emaskan masyarakat Islam di Ambon-Maluku, sebab yang terjadi adalah mekanisme biasa yang kerap terjadi di mana-mana, yaitu meningkatnya kualitas SDM masyarakat Islam di Ambon-Maluku, sehingga mereka mempunyai nilai tambah (melalui pendidikan) yang memungkinkannya memasuki birokrasi dan posisi strategis lainnya. Sejalan dengan itu, masyarakat Islam dari luar Ambon-Maluku berdatangan mengisi sektor perdagangan dan sebagai-nya yang kosong ‘ditinggalkan’ oleh masyarakat Kristen Ambon-Maluku.

Melalui pernyataan-pernyataannya selama ini, kita berkesimpulan bahwa Gus Dur tidak saja cenderung Asbun (asal bunyi), yaitu gemar melontarkan data yang sangat tidak akurat mengenai sesuatu hal, juga tidak mempunyai keberpihakan moral terhadap berbagai bencana yang menimpa ummat Islam. [swaramuslim.net]